Inovasi Pangan,Grobogan Ciptakan Beras Kesehatan



GROBOGAN- Selama ini,jagung hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak saja. Teknologi pembuatan tepung jagung dan mokaf belum mendapatkan perhatian dari masyarakat bahkan belum mendapatkan peluang pasar karena kegunaannya belum banyak diketahui walaupun ketersediaan bahan baku jagung sangat melimpah di Kabupaten Grobogan yang selama ini masih dijual dalam bentuk utuh jagung pipilan dan peruntukannya kebanyakan untuk pakan ternak.

.Namun dengan sebuah inovasi,jagung bisa disulap menjadi santapan yang lezat dan menyehatkan.

Nasi goreng jagung contohnya,tidak saja berbentuk butiran kecil layaknya jagung yang diolah oleh leluhur, namun nasi jagung yang disajikan sudah berupa butiran beras. Inilah hasil teknologi yang diterapkan.

Heru Pradjati, Kabid Konsumsi Penganekaragaman Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Grobogan, Senin(17/10/2016) mengungkapkan, sebagai penghasil jagung terbesar di Jawa Tengah, warga Grobogan, tidak saja menikmati hasil olahan berupa jagung bakar atau jagung rebus. “Kita harus terus berinovasi.Tidak hanya mengolahnya secara tradisional saja.Namun, hasil olahan jagung telah ‘disulap’ menjadi hasil olahan berupa tepung jagung dengan bermacam-macam olahan lainnya,"jelasnya.

Untuk kegiatan penepungan ini disamping anggaran dari ABPD Kabupaten Grobogan, Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Grobogan telah bekerjama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Jakarta, UGM, USM serta UNIKA Semarang dalam Program Tekno Park Pangan dimana pengadaan alat penepung baik yang skala kecil maupun yang skala besar (pabrikan) yang ada di Desa Dapurno Kecamatan Wirosari yang saat ini masih dikembangkan pemanfaatan tepung jagung dan mokaf menjadi produk makanan olahan seperti chiki, Rasteja, Mie Jagung, Tortila, aneka kue kering dan basah dll.

“Saat ini,kita menggandeng beberapa instansi dan universitas untuk mengkaji produk olahan dari hasil tepung jagung, dibuat berbagai farian makanan baik untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti beras ataupun sekedar untuk bahan pembuat makanan kecil berupa roti,” ungkapnya.

Tidak saja lebih mengenyangkan, namun nasi jagung yang dikenal memiliki kandungan rendah karbohidrat bisa mengurangi potensi orang yang mengkonsumsi terkena potensi sakit gula darah. Selain itu, sistem penyerapan energi yang lebih lama membuat makan nasi hasil olahan jagung bisa lebih bertahan lama kenyang. “Nasi hasil olahan jagung banyak dimanfaatkan warga luar Jawa karena mereka merasa kenyang lebih lama. Dengan nilai positif yang diberikan, tentu ada konsekuensi beras jagung dijual lebih mahal dibanding beras biasa yakni berkisar Rp 25 ribu perkilo atau setara dengan beras organik,” tambahnya.


Kreasi hasil olahan jagung, tidak saja menjadikan kesibukan bagi ibu-ibu, namun juga membantu perekonomian bagi keluarga.Purminah, salah satu pengolah turunan jagung mengaku, pengolahan jagung menjadi bahan jadi lebih meningkatkan nilai jual jagung yang selama ini cenderung rendah ketika terjadi panen raya. Di Grobogan, pengolahan nasi jagung dan turunannya telah berhasil dikembangkan oleh lima kelompok usaha hasil binaan Dinas Ketahanan Pangan.“Hasil turunan olahan jagung berhasil diolah menjadi eggroll, kue kering, mie, stik, nastar keju, kue bawang, choco chips, castangel dan bolu kering,” ungkapnya.

Produk yang dihasilkan, tambah dia, merupakan hasil olahan khas dari Kabupaten Grobogan untuk menjaga kesehatan bangsa. “Ini merupakan produk khas Kabupaten Grobogan yang sudah didaftarkan BPOM dan bersertifikat halal,” tambahnya.

Ambarwati anggota Kelompok Wanita Tani menambahkan, nama rasteja merupakan brand yang dihasilkan oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP). Dimana, beras diproduksi oleh beberapa kelompok Usaha Kedil Menengan. “Ada dari KUB Maju Jaya, KWT Maju Jaya, KWT Murih Santoso dan KWT Ngudi Hati,” tambahnya.

Permasalahan Yang Dihadapi
Menurut Heru pradjoto,Permasalahan mengangkat aneka olahan baru yang berbasis pangan lokal (tepung jagung dan mokaf ) masih cukup komplek."   Teknologinya masih baru (percobaan), sehingga kondisi mesin masih trial & error,Perlu kecermatan kerja yang produktif untuk mendapat efisiensi yang optimal.Harga produk belum kompetitif dengan produk yang disubstitusi ( beras dan terigu).Adanya persepsi jagung merupakan produk makanan inferior (makanan orang miskin dan tidak bergizi), padahal jagung memiliki kandungan mineral, vitamin A dan energi yang lebih tinggi dibanding beras.Daya beli konsumen rendah apalagi untuk produk pangan olahan bermutu, sadar gizi masyarakat umumnya masih rendah,"jelasnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel