Pasar Glendoh: Kalau Jelek Diperbaiki, Bukan Dipindah




GROBOGAN- Wacana pemindahan Pasar Umum dan Unggas, Glendoh, di Jalan R Soeprapto, Kota Purwodadi sudah berhembus sejak tahun 2011 lalu. Hingga pembangunan pasar Unggas baru di jalan Bupati Sunarto selesai,  namun bangunan ini belum juga dihuni.

Pasar Glendoh tidak saja menjadi salahsatu sentra transaksi unggas terbesar di Kabupaten Grobogan. Namun, di pasar yang diwacanakan akan dipindah sejak dua tahun lalu ini juga menjadi penyedia kebutuhan makan dan sepeda bagi warga Purwodadi.
Dari pantauan Grobogan Todaydi lokasi pasar yang sempat dipertanyakan Gubenur Jateng Ganjar Pranowo karena dua tahun tidak juga berhasil di pindah ko lokasi baru di dekat tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di Jalan Bupati Sunarto, terdapat perbedaan secara desain yang sangat mencolok.

Edi, pengurus Paguyuban Pasar Umum dan Unggas Pasar Glendoh, (P2UPG), mempertanyakan konsep pembangunan pasar yang disebut-sebut sebagai calon tempat untuk relokasi pedagang pasar unggas dari Pasar Glendoh yang juga menjadi sasaran kunjungan di hari pertama kerja Bupati Sri Sumarni.Selain dari segi jumlah kios dan los yang sangat kurang, keberadaan pasar yang akan digunakan untuk relokasi juga berada di lokasi TPS.
“Saya hitung sendiri, jumlah kios di depan dan samping ada ada sekitar 21 kios. Kenapa hanya dibangun 16 kios belum lagi jumlah losnya. Disini, semua ada ratusan pedagang. Itu datanya di meja lengkap jika  mau menghitung sendiri bisa,” ungkapnya meyakinkan.

Jika jumlah kios yang dibangun hanya 16, terus sisanya akan ditaruh dimana. “Kiosnya saja kurang, belum jumlah losnya. Bagaimana dulu merencanakannya kami juga tidak tahu,” tambah pria yang sempat menghantar Grobogan Today keliling lokasi pasar.

Sistim penempatan hewan yang diletakan di kandang kotak yang terbuat dari bambu belah yang diletakan di bawah kontruksi los, membuat hewan dagangan aman dari hujan. “Yang dijual dan belikan disini itu hewan hidup. Kebanyakan ayam jawa dan bebek serta entog. Jika entog kebanyakan dikirim untuk daerah pantura seperti Pati, Kudus, Rembang. Untuk warga Purwodadi, lebih memilih ayam,” aku Siti, pengurus P2UPG lain, didampingi Selamet unsur pembina.

Siti menjelaskan, jika disebut sudah kurang representatif, seharusnya pemerintah Kabupaten melakukan penataan dan pembangunan fisik pasar agar bisa lebih ramai dan lebih baik. “Alasan memindah itu apa. Bau, jika disebut bau dicek saja apa kah bau setelah pedagang urunan untuk membangun pengelolaan limbah (IPAL). Jika karena disebut sudah tidak bagus harusnya diperbaiki. Kenapa malah dipindah?,” tanya wanita yang menuruni bisnis ayam dari orang taunya itu.

Terkait penolakan pedagang, hingga saat ini kondisi pasar Unggas yang telah diselesaikan pembangunanya di Jalan Bupati Sunarto masih tetap dikosongkan. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel