Jelang Imlek,Petani Buah Naga Gigit Jari


GROBOGAN- Panen buah naga biasanya terjadi pada Desember-Januari. Namun, bagi petani buah naga di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo,Kabupaten Grobogan pada musim panen kali ini harus gigit jari. Pasalnya, tanaman mereka terserang penyakit dan terancam gagal panen. Lahan seluas 2 hektar milik Dr. Muhajir ini dipastikan tak bisa panen seperti biasanya.

Sukiman(52),petani penggarap buah naga saat ditemui mengatakan, karena anomali cuaca dengan intensitas hujan tinggi memicu tanaman buah naga rentan terserang penyakit. Akibatnya, tanaman buah naga yang ditanam warga di Desa Selo terancam gagal panen.“Tahun ini terlalu banyak hujan, dan cuaca tidak menentu. Akibatnya banyak yang terserang penyakit,” kata Sukiman ditemui di lokasi kebun buah naga ini. 

Menurut Sukiman, diperlukan peremajaan tanaman buah naga. Karena tanaman yang sudah terserang penyakit harus dibabat. Dengan demikian, pasokan buah naga tidak akan terputus.Di tempat yang sama, Sukiman, petani buah naga mengatakan bahwa penyakit itu menyerang hampir 100 persen tanaman buah naga di kebunnya. Padahal, jumlah tanaman buah naga yang dibudidayakan masyarakat desa tersebut bisa mencapai 500  batang.
“Muncul bintik-bintik kuning pada bagian batangnya, setelah itu batang membusuk. Tanaman buah naga saya juga banyak yang kena penyakit itu,” katanya.

Menurutnya, dalam dua tahun terakhir buah naganya semakin tidak produktif. “Biasanya lahan 2 hektar ini bisa panen sekitar 37 ton buah naga saat panen begini. Namun sekarang hasilnya jauh menurun, bahkan tidak ada hasilnya,” katanya.

Saat ini, dia telah berupaya mengatasinya dengan menyemprotkan obat atau memberikan antivirus kepada tanaman-tanaman mereka. Namun, upaya itu sia-sia. Akhirnya, tanaman terpaksa dipangkas.“Kalau sudah begitu, tanaman harus dipangkas, dicabut tanamannya. Kemudian dilakukan peremajaan dengan bibit-bibit yang baru,” terangnya.

Sukiman mengaku, karena gagal panen selama 2 tahun berturut-turut, pemilik lahan akan menggantinya dengan komuditas lain, yaitu buah pisang. “Kegagalan panen di 2 tahun ini membuat pemilik lahan akan menggantinya dengan buah pisang. Disini saya hanya bertugas merawat saja,” jelasnya.

Bagas(37), salah seorang penjual buah naga yang biasa membeli buah naga di kebon tersebut saat ini harus membeli pasokan dari luar kota. “Dulu buah naga disini terkenal besar dan manis. Namun saat ini buahnya kecil-kecil,” pungkasnya. (IYA)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel