Gerakan Peduli Kendeng Semakin Bergeliat


GROBOGAN – Dampak tangan jahil yang mulai terlihat akibat rusaknya lingkungan di wilayah pegunungan kendeng membuat beberapa aktifis lingkungan di Kabupaten Grobogan mulai resah. Mereka mulai tergerak untuk menyelamatkan tanah yang telah memberikan kehidupan kepadanya. Melalui beberapa pertemuan kecil yang juga dihadiri Yayasan Sheep Indonesia (short for Society for Health, Education, Environment and Peace), mereka membahas upaya penyelamatan kerusakan kawasan karst pegunungan kendeng.

Wahyu, salah satu aktifis menggambarkan salah satu dampak kerusakan alam yang terjadi di daerah Kecamatan Tanggungharjo yang saat ini santer dikabarkan akan dibangun pabrik semen. Mata air yang dahulu jernih dan terdapat di berbagai tempat, kini mulai berkurang akibat kerakusan manusia. “Beberapa sumber mata air sudah mulai berkurang debit airnya. Bahkan ada beberapa yang sudah mati,” ujarnya.

Ia menambahkan, ratusan hektar lahan yang telah dibebaskan sejak tahun 1992 saat ini terlihat gersang tanpa adanya pepohonan besar yang berfungsi sebagai penyimpan air. Hal ini diperparah dengan pengalihan fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan adanya galian c yang tidak terkontrol. “Memang secara ekonomi warga terbantu, tapi warga juga merasakan dampak kekurangan air dan cuaca yang sangat panas,” tuturnya.
Yayasan Sheep Indonesia (short for Society for Health, Education, Environment and Peace) bersama beberapa aktifis Grobogan berencana melestarikan keanekaragaman hayati serta lingkungan hidup Grobogan."Teman-teman di Grobogan yang tahu banyak tentang akar permasalahan yang ada. Dengan mengetahui akar masalah kemudian mencari penyelesain bersama tanpa merusak lingkungan saya yakin semua bisa terpecahkan," ujar salah satu aktifis Yayasan Sheep Indonesia asal Kudus Agung.
Kedatangan beberapa aktifis nasional tersebut menggeliatkan aktifis lokal berperan serta menciptakan kelestarian lingkungan dengan merumuskan akar permasalahan untuk pemecahan."Kesadaran masyarakat tentang bahaya hilangnya sumber mata air saat ini kurang, sehingga tanpa merasa bersalah melakukan perusakan lingkungan dengan dalih kebutuhan ekonomi. " terang aktifis Pati Bowo kemarin.
Ia menambahkan, kawasan karst Sukolilo di Pegunungan Kendeng Utara, Kabupaten Pati, Grobogan, dan Blora, Jawa Tengah, resmi ditetapkan sebagai kawasan lindung geologi sebagai bagian dari kawasan lindung nasional.Pemerintah menetapkan Bentang Alam Karst Sukolilo sebagai cagar budaya Geologi melalui Keputusan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 2641 K/40/MEM/ 2014 Tentang Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst Sukolilo, Jawa Tengah. Keputusan Menteri ESDM berlaku sejak tanggal 16 Mei 2014. “Penetapan Bentang Alam Karst Sukolilo sebagai cagar budaya Geologi diambil dengan pertimbangan kawasan karst tersebut memiliki komponen geologi yang unik serta berfungsi sebagai pengatur alami air tata air tanah dan menyimpan nilai ilmiah sehingga perlu untuk dilestarikan dan dilindungi keberadaanya dalam rangka mencegah lerusakan guna menunjang pembangunan berkelanjutan dan pengembangan ilmu pengetahuan,” jelasnya.
Mereka berharap semua bisa bekerjasama dengan baik agar pegunungan Kendeng utara dan selatan di Grobogan kembali lestari. “Jika warga tahu bagaimana dampak pengrusakan kawasan Karst, saya yakin mereka akan sadar untuk tidak merusaknya,” tegasnya. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel