Jejak Sunan Kalijaga di Sungai Tuntang


GUBUG- Mega proyek pembangunan Kraton dan masjid agung Demak membutuhkan matrial kayu dan batu yang diambil dari daerah Kecamatan Kedungjati dan Salatiga. Untuk mengangkut material tersebut, para santri yang dipimpin Sunan kalijaga melintasi sungai Tuntang dengan mempergunakan rakit. “Transportasi pada saat itu kan lebih enak lewat sungai. Karena sungai Tuntang ini mengalir sampai daerah Demak,” jelas Heru Hardono, pemerhati sejarah.

Kayu-kayu tersebut disusun menjadi beberapa rakit, untuk dihanyutkan melalui sungai Tuntang menuju ke Demak. Tempat petilasan untuk menyusun rakit tersebut sekarang masih ada di Kedungjati, yang namanya petilasan SONDE terletak di depan kantor kecamatan Kedungjati. Selain kayu jati, para santri Sunan kalijaga juga membuat umpak dari batu, yang konon dibuat di daerah Salatiga.”Sonde itu kepanjangan dari ngaso semende artinya istirahat bersandar,” tutur Heru.

Beberapa rakit kayu, diatasnya  diberi batu umpak, kemudian dihanyutkan lewat sungai Tuntang dikawal para santri Sunan Kalijaga. Sesampainya di daerah Glapan ada beberapa rakit yang putus talinya, sehingga rombongan para santri harus membenahi rakit-rakit tersebut. “Berhari-hari mereka berada di daerah Glapan, sehingga para santri kemudian mendirikanlanggar disana. Pembuatan langgar tersebut pada tahun 1473, seperti ditulis dengan huruf arab yang terdapat pada salah satu tiangnya,” tuturnya.


Setelah rakit selesai dibenahi, rombongan kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Demak. Ada 2 umpak besar tertinggal disana, dan ada juga beberapa umpak kecil. Dua umpak besar sekarang masih ada di dekat pekuburan desa, yang letaknya berada di lereng sungai Tuntang. Adapun umpak kecil banyak yang hilang, dan tinggal satu yang masih ada terletak di pengimaman masjid Glapan sekarang. “Batu umpak tersebut sama persis dengan yang ada di masjid Demak,” pungkas Heru. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel