Takut Harga Hancur, Petani Grobogan Tolak Impor Beras



GROBOGAN, Grobogantoday.com - Tak ingin merasakan harga turun drastis seperti yang terjadi pada musim panen 2017, membuat  petani asal Grobogan menyuarakan penolakan wacana impor beras yang akan dilakukan oleh pemerintah. Ketakutan mereka cukup beralasan, jika benar impor dilakukan dan waktunya beriringan dengan waktu datangnya beras impor, dapat mengakibatkan harga gabah hancur. Impor beras yang  dilakukan bersamaan dengan masa panen  musim tanam pertama (MT) satu,  yang saat ini sudah memasuki masa mrapu atau menunggu masa panen  raya. Bahkan, sebagian petani  sudah mulai memanen padi yang mereka tanam awal musim penghujan 2017 lalu.

Sudarjo, petani Grobogan mengungkapkan, petani di Grobogan menolak wacana pemerintah impor beras, petani merasa dirugikan dengan adanya impor beras dalam waktu dekat. “Grobogan akan terjadi panen raya. Jika panen raya tiba dan impor beras tetap dilakukan maka, harga padi akan kembali anjlok seperti tahun yang lalu yang menyebabkan banyak petani merugi,” keluhnya.

Petani asal desa Ngeluk, Penawangan alasan pedagang menaikkan harga beras akibat banyak panen gagal adalah alasan yang tidak masuk akal. Buktinya, di desa Ngeluk, Penawangan bisa panen. Bahkan, kendati Desa Ngeluk sendiri  bukanlah desa yang dimanjakan dengan irigasi teknis,  meski memiliki saluran air tapi keberadaan air Sungai Lusi yang lebih rendah dari saluran irigasi menjadi persoalan tersendiri bagi petani.

Petani di Desa Ngeluk sebelumnya mengandalkan turunnya hujan sehingga air di Sungai Lusi naik, setelah melakukan inovasi sederhana yakni memompa air dari Sungai Lusi dan dialirkan ke saluran irigasi teknis akhirnya petani tidak lagi tergantung pada musim. 

Utama, pedagang gabah mengaku berharap rencana impor beras yang diwacanakan pemerintah tidak perlu direalisasi, permintaan dikarenanakan  mereka sudah mulai panen padi dan harganya juga cukup tinggi. “Ini sangat menguntungkan petani. Keyakinan petani didukung fakta panen di awal 2018 maju dari waktu yang semestinya,” katanya.

Selain itu, mengaku keberatan adanya wacana pemerintah untuk impor beras, saat ini harga padi dari petani cukup tinggi yakni mencapai Rp 5.700 per kilo. “Harga padi panen basah yang langsung dari petani cukup menguntungkan petani. Panen tahun ini memang lebih bagus dari pada  tahun sebelumnya, namun akibat belum serempak petani memanen jadi harga gabah kering  panen harga belinya cukup tinggi dibandingkan tahun lalu yang hanya yang hanya Rp 4.000 per kilogram,” katanya.(RE) 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel