Pasar Unggas : Dinas Enggan Berkomentar


GROBOGAN- Rencana pemerintah Kabupaten Grobogan untuk memindah pedagang Pasar Umum dan Unggas, Glendoh di Jalan R Soeprapto bakal mengalami kendala. Hingga saat ini ratusan pedagang bersikukuh tidak mau pindah ke lokasi baru.Alasan tidak konsekuensinya pemerintah kabupaten terkait lokasi pemindahan menjadi salahsatu alasan penolakan pemindahan pasar hasil relokasi pedagang kaki lima (PKL) di sepanjang jalur kereta api di Jalan R Suprapto tahun 1985 lalu.

Anindya Dibya Wardana (50) ketua Paguyuban Pasar Umum dan Unggas (P2UPG) Pasar Glendoh, ditemui Grobogan Today, Kamis (6/4) menjelaskan, dalam pertemuan yang digelar di ruang dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) Juli 2011 lalu, disepakati pemindahan pasar Glendoh dilakukan ke lokasi baru yakni sekarang digunakan untuk pasar Agro yakni di Jalan Gajahmada. “Sedang sekarang ditempat berbeda dan tidak dilalui kendaraan,” ungkapnya didamping beberapa pengurus lainnya.

Anindya menambahkan, penolakan lain yakni jumlah kios yang dibangun dipasar tidak sesuai dengan jumlah kios di pasar lama. “Kios yang dibangun di lokasi baru hanya 16, padahal di sini ada 21 terus yang lima mau dikemanakan. Jumlah kiosnya kurang terus perencanaanya bagaimana. Belum lagi jumlah los dan kandang. Memang selama ini dalam proses pembangunannya tidak mengajak rembugan dan melibatkan pedagang di sini. Petugasnya hanya datang tarik distribusi terus pergi. Malah kepala UPTD-nya tidak pernah turun ke pasar,” tambahnya.

Keluhan serupa diungkapkan Siti (39) pedagang ayam yang juga unsur ketua paguyuban pedagang itu mengaku, setiap bulannya restribusi ditarik oleh pihak pemerintah Kabupaten. Namun, perhatian pemerintah kepada lingkungan pasar sangat kecil. “Malah untuk perbaikan jalan kami harus urunan, perbaikan atap harus urunan sampai bangun IPAL (Instalasi pengolahan air limbah) kami bangun sendiri dengan cara swadaya,” ungkapnya.

Untuk bisa membuat IPAL ukuran 4x6 meter yang membuat pasar tidak berbau, pengurus paguyuban sampai harus belajar pengolahan IPAL di Rumah Pemotongan Unggas (RPU) Penggaron, Kota Semarang. “Kami urunan bangun IPAL berupa tandon 4 x 6 meter yang disekat menajdi tiga yakni limbah dari selokan, penyaringan dan air bersih. Itupun, limbah dari tandon kemudian di sedot truk tangki dan itu kembali kami harus tumpukan karena setiap hari untuk buang limbah perlu biaya sekitar Rp 300.000,” tambahnya.
Dari pantauan Grobogan Today , kondisi pasar unggas cukup bersih. Tidak ada genangan air di saluran maupun tumpukan sampah. Bahkan, saat keliling aroma unggas pun tidak telalu menyangat dan cenderung tidak berbau.

Sementara itu, kritikan terkait pemindahan pasar Glendoh, sempat dikeluarkan Gubenur Ganjar Pranowo saat berkunjung ke Grobogan. Gubenur mengkritisi Pemkab Grobogan yang tidak kunjung memindahkan pasar ke lokasi pasar baru kendati sudah dibangun dua tahun lalu.

Dinas terkait saat dihubungi mengenai relokasi pasar sementara ini enggan memberikan keterangan. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel