-->
yQRsgXYtnqhElJ0qG98ow6B0hsUDuvl7mVOesb9a
Kekeringan, Petani di Grobogan Jual Bongkahan Tanah Untuk Bertahan Hidup

Iklan Billboard 970x250

Iklan 728x90

Kekeringan, Petani di Grobogan Jual Bongkahan Tanah Untuk Bertahan Hidup


GROBOGAN- Sejumlah petani di Kabupaten Grobogan harus rela menjual bongkahan tanah dari sawah mereka untuk bertahan hidup. Hal ini disebabkan musim kemarau yang berkepanjangan, sehingga mereka tidak bisa menanam di lahan pertanian yang kering kerontang, tanpa adanya pengairan.

Hal ini diungkapkan, Jono, salah seorang petani di Desa Karanganyar, Kecamatan Purwodadi. Dia terpaksa menjual bongkahan tanah untuk menutupi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Sawah miliknya yang kering, membuatnya harus kehilangan pekerjaan sebagai seorang petani. Dikarenakan, lahan miliknya tak bisa lagi untuk ditanami. “Sawah disini hanya mengandalkan air hujan. Jadi kalau kemarau seperti ini tidak bisa ditanami. Kalau jual tanah begini kan bisa buat nutup kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.

Saat Grobogan Today berada di lokasi, terlihat belasan truk engkel hilir mudik mengangkut bongkahan tanah. Beberapa pekerja bertugas mengeruk tanah dengan peralatan tradisional, sedangkan pekerja yang lain bertugas menaikkan bongkahan-bongkahan tanah ke dalam bak truk. “Lumayan juga kerja disini, daripada menganggur. Sawah juga tidak bisa ditanami,” tutur Parjo, salah seorang pekerja yang juga petani desa setempat.

Bongkahan tanah ini biasanya digunakan untuk menguruk halaman rumah atau pondasi bangunan baru. Harga jualnya pun bervariasi, tergantung jarak tempuh dari tempat pengambilan bongkahan tanah menuju lokasi pengurukan. Biasanya berkisar antara 90 ribu sampai 150 ribu. “Biasanya kalau ke desa sekitar sini saja Cuma 90 ribu, kan jaraknya sangat dekat. Lain halnya kalau sampai Purwodadi sana, tentu harganya berbeda,” ungkap Parjo.

Warga lebih memilih bongkahan tanah dari sawah, selain harganya lebih murah dari tanah padas yang biasanya untuk uruk, tanah dari sawah ini bisa ditanami saat dipakai untuk pengurukan halaman. “Memang harganya lebih murah. Disamping itu, kalau ditanami juga subur, lain halnya dengan tanah padas,” ungkap Rokani, pemakai tanah uruk. (iya)

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

1 comment

Post a Comment

Iklan Tengah Post