Budi "Buntung", Pembuat Kaki Palsu Asal Grobogan


GABUS-Dilihat dari fisiknya, lajang bernama lengkap Budi Santoso(21) ini  sekilas tidak ada yang berbeda dalam diri pria ramah ini. Ia bisa berjalan dan beraktivitas seperti orang lain. Tetapi siapa sangka ia adalah penyandang difabel? Terjatuh dari sepeda motor dan dilindas tronton tahun 2016 silam membuat kaki kirinya terpaksa diamputasi, dan kini harus berjalan menggunakan kaki palsu.

Peristiwa 1 tahun silam itu masih membekas di ingatannya. Kala itu ia sempat down, sulit baginya menerima kenyataan bahwa ia harus hidup dengan satu kaki. "Sempat minder, masih muda juga kan. Untung ada keluarga dan sahabat yang selalu memotivasi," kenang Budi.

Usai diamputasi, anak tunggal pasangan Suwadi dan Karsini ini berjalan dengan bantuan tongkat. "Akhirnya saya kepikiran buat kaki palsu, itu saking kepingin saya. Walaupun saya enggak bisa jalan, paling nggak saya kelihatan normal," katanya.

Warga Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, ini pun mulai membuat kaki palsunya sendiri.  Saat itu ia membuat kaki palsu dari bahan bekas. Pertama memakai, ia merasa kurang nyaman. Kakinya terasa sakit. Namun berkat kemauan kerasnya, akhirnya berhasil. "Awalnya kan cuma ingin kelihatan normal saja, tapi dari situ saya mencoba berjalan dengan kaki itu. Memang tidak bisa langsung bisa jalan, butuh proses," ucapnya.

Dari barang bekas, mulai dari ember plastik, spon,pipa, lempengan besi  inilah puluhan kaki palsu sudah ia buat. Banyak orang yang senasib dengannya, datang ke rumah minta dibuatkan kaki palsu. Tak hanya dari Grobogan saja,  namun ada juga dari Blora, Solo, Semarang dan Samarinda. Dengan apa yang dialaminya, Budi kini merasa bersyukur. Ia bisa membantu orang lain yang senasib dengannya. “Walaupun berasal dari barang bekas tapi juga butuh dana yang tidak sedikit,” tuturnya.

Salah satu impian terbesar Budi adalah  kaki palsu buatannya memiliki sertifikasi. Menurutnya, kaki palsu buatannya memiliki kelebihan dibandingkan kaki palsu pabrikan. Kaki palsu buatannya dilengkapi engsel dibagian lutut dan diatas tumit. “Kalau pabrikan kaku. Buatan saya jika digunakan jalan serasa berjalan dengan kaki sempurna dan jauh lebih ringan,” tambahnya.

Untuk pembuatan kaki palsu, Budi tak pernah mematok harga. Bahkan penyandang difabel yang tidak mampu diberi kaki palsu secara cuma-cuma. “Saat ini, banyak sekali penyandang difabel yang kurang mampu. Sedangkan harga kaki palsu pabrikan cukup mahal,” pungkasnya. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel