Pengisi Shelter Pusat Kuliner Belum Jelas


PURWODADI- Pedagang kaki lima jalan R.Soeprapto meminta payung hukum yang jelas untuk pusat kuliner yang akan di bangun di eks koplak dokar, lahan milik PT KAI. Mereka tak mau bernasib  sama seperti pedagang di pusat kuliner hutan kota yang akhirnya gulung tikar. Demikian diungkapkan Ketua APKLI Grobogan, Adi Sucipto, kemarin. “Kita baru dikumpulkan satu kali. Itu pun belum tercapai sebuah kesepakatan. Seharusnya dilakukan sebuah komunikasi yang intens,” tutur pria yang biasa dipanggil Yanto bakso ini.

Pihaknya ingin bertemu dengan bupati langsung agar bisa memaparkan pandangan mereka yang bisa menjadi pertimbangan bupati terkait kebijakan yang akan diambil. “Memang tujuannya bagus, mengurangi pkl di jalan R.Soeprapto. Namun kalau tidak tuntas akan timbul pedagang-pedagang baru,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini jalan R.Soprapto merupakan zona kuning bagi pkl, yakni  hanya boleh jualan dari jam 16.00-06.00. Jika nanti yang dipindah adalah pedagang yang hanya beroperasi pada siang hari, maka dikhawatirkan lokasi bekas pedagang akan ditempati pedagang baru. Namun jika R.Soeprapto dijadikan zona merah, maka lokasi pusat kuliner tak akan mampu menampung seluruh pkl. “Pkl yang beroperasi pada siang hari sekitar 30-40 pkl. Sedangkan keseluruhan pkl sekitar 160an,” ungkapnya.

Walaupun belum ada kejelasan siapa yang akan mengisi pusat kuliner baru ini, namun pihaknya sudah banyak yang menghubungi untuk minta lokasi di pusat kuliner. “Ada yang dari warga sekitar, korban penggusuran PT KAI dan eks pasar pagi. Ada puluhan orang yang kesini,” tuturnya.
Ia menambahkan, pihaknya hanya ingin bertemu dengan bupati untuk  membuat kesepakatan bersama. Sehingga apa pun yang terjadi tidak akan ada saling menyalahkan. “Jika ada komunikasi yang baik antara pkl dengan pemkab dan dinas terkait kan enak nantinya,” tambahnya.

Sementara, pembangunan pusat kuliner yang berlokasi di lahan eks koplak dokar yang merupakan lahan milik PT KAI sudah dimulai. Pusat kuliner ini rencananya akan berisi 70 shelter. Untuk tahap pertama dianggarkan dari APBD Kabupaten Grobogan  senilai 4 milyar dari total keseluruhan 7 Milyar. Demikian diungkapkan Trubus Eko Sudaryono, PPTK Disperindag Grobogan saat ditemuai di ruang kerjanya. “Untuk tahap pertama, dianggarkan senilai 4 M dari APBD Kabupaten Grobogan. Tahap berikutnya akan dilaksanakan tahun 2018 ,” jelasnya.

Pemenang tender proyek ini yakni PT Reka Esti Utama dari Semarang. Pembangunannya ditargetkan selesai akhir Desember nanti. Untuk tahap pertama ini, akan dibangun 70 shelter, IPAL,TPS dan halaman. “Pembangunan ini disesuaikan dengan kondisi keuangan daerah,” tambahnya.

Menurut rencana, pusat kuliner tersebut akan diperuntukkan  untuk pedagang yang berjualan di sepanjang Jalan R Soeprapto. Shelter dengan luas 2 meter x 3 meter ini hanya menampung sekitar 43 persen jumlah pedagang kaki lima di jalan R. Soeprapto.“Kita bersama paguyuban PKL sudah mendata jumlah pkl di sepanjang jalan R. Soeprapto. Sementara ada 160 pkl. Nantinya sebagian akan dimasukkan ke tempat kuliner di Taman Hijau Kota Purwodadi,” ujarnya. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel