Sampah Menjadi Masalah di Grobogan


MENUMPUK: Salah satu ruas jalan Purwodadi-Kuwu, tepatnya Desa Ngraji yang dijadikan tempat pembuangan sampah, sehingga sangat mengganggu pengguna jalan

GROBOGAN – Tingginya volume sampah di Kabupaten Grobogan menjadi salah satu permasalahan yang harus dipecahkan bersama. Permasalahan dana menjadi salah satu problem, selain tingkat kesadaran masyarakat itu sendiri dalam mengatasi sampah. “Volume sampah yang ada di wilayah Grobogan berkisar 160 meter kubik per hari. Dari jumlah ini, sekitar 100 meter kubik merupakan volume sampah di Kota Purwodadi,” jelas Kasi Penanganan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Grobogan Noer Rochman.

Untuk menampung sampah dari kawasan kota, pihaknya telah menyediakan beberapa  tempat penampungan sampah sementara (TPS) seperti TPS Pasar Induk, Pasar Nglejok, Pasar Danyang, dan Pasar Agro, di bekas terminal bus dan Jalan Soponyono III. Selain di wilayah kota, sejauh ini sudah ada dua TPS lagi yang dimiliki. Yakni, di Desa Mojorebo, Kecamatan Wirosari, dan di Kecamatan Godong. Keberadaan TPS ini untuk menampung sampah di sekitar wilayah tersebut. “Biasanya, pengambilan sampah dari tempat pemukiman dilakukan pagi hari. Sedangkan, pengambilannya dari TPS menuju TPA biasanya dilakukan dua kali, pagi dan sore. Hal itu guna menekan sisa sampah yang bisa mengganggu lingkungan sekitar. Sebab, lokasi TPS ada yang berdekatan dengan pemukiman penduduk,” tambahnya.
Noer Rohman menambahkan, pihaknya telah  menurunkan 57 penyapu jalan, 57 pengambil sampah dengan armada becak dan kendaraan roda tiga. Kemudian, ada pula dukungan tenaga khusus yang menggunakan beberapa armada truk.”Saat ini kita persiapkan satu lokasi TPS lagi sedang kita siapkan di Kecamatan Gubug. Keberadaan TPS disitu akan bisa menampung sampah-sampah di wilayah barat,” jelasnya.
Untuk mengurangi volume sampah, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Grobogan membina 5 KSM untuk mengelola TPS3R(Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle(mengurangi-menggunakan-daur ulang)). Lima KSM tersebut yakni Danyang, Klambu,Getasrejo, Kunden dan Sulursari. “Sampah diambil dari rumah tangga oleh petugas untuk kemudian dibawa ke TPS3R. Disini nanti, sampah dipilah-pilah, yang memiliki harga jual dikumpulkan. Sedangkan residu nanti akan diangkut ke TPA. Dengan adanya TPS3R, bisa mengurangi volume sampah sebanyak 15 persen di daerah tersebut,” jelas Jadi, Kasi Pengurangan sampah Dinas Lingkungan Hidup.
Menurut Jadi, selain TPS3R, pihaknya juga membina tidak kurang dari 20 bank sampah yang tersebar di beberapa wilayah di Kabupaten Grobogan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi volume sampah. Namun, dengan adanya bank sampah, hanya bisa mengurangi volume sampah kurang dari 5 persen di wilayah bank sampah berada. “Memang pengurangannya cukup kecil,” tandasnya.
Jadi menambahkan, kedepan, pengelolaan sampahdiarahkan  dilakukan secara mandiri. Selain kebersihan lingkungan akan lebih diperhatikan warga, pemberdayaan masyarakat akan lebih terlihat disini. “Kalau untuk pemerintah, selain biaya operasional berkurang, penumpukan sampah di TPA menjadi berkurang. Sehingga umur TPA menjadi lebih panjang,” lanjutnya.
Untuk mengatasi masalah sampah di setiap kecamatan, pihaknya juga telah menyurati pihak kecamatan untuk menyediakan lahan untuk landasan TPS. Namun responnya masih minim. “Kami berupaya menyurati kecamatan, namun tidak ada respon,” pungkasnya. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel