Grobogan Gudang Bibit Atlet Gulat


PURWODADI- Tempaan hidup sehari-hari di sawah menjadi salah satu modal menjadi seorang atlet gulat berprestasi. Kebiiasaan hidup berat dengan membantu orang tua mengerjakan sawah, membuat pelajar di Kabupaten Grobogan memiliki peluang besar menjadi atlet dicabang olahraga (cabor) gulat.“Tidak saja membantu kerja mengurus pertanian, namun jarak tempuh untuk mencapai sekolah yang jauh tidak jarang ditempuh dengan naik sepeda menambah kekuatan tersendiri bagi individu. Karenanya dalam rekrutmen calon atlet, tidak jarang kami mencari hingga ke sekolah di perbatasan Grobogan dengan Kabupaten Blora,” ungkap Mohamad Sumartono, Ketua pengurus kabupaten (Pengkab) Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI), kemarin.

Dengan merekrut atlet muda berbakat hingga ke pelosok desa, memunculkan pemerataan keterwakilan atlet. Tidak itu saja, pelaksanaan pembinaannya pun tidak terlalu lama.
“Ada satu atlet muda berbakat Angga Pangestu. Karena sering membantu orang tua kerja diladang salah satunya mentraktor ladang, dia punya kekuatan labih. Setelah beberapa kali latihan beberapa medali baik tingkat provinsi maupun nasional berhasil didapat dari kelas Gaya Greco Roman,” tambah sosok yang juga menjabat sebagai Sekda Kabupaten Grobogan.

Tidak saja sektor pertanian, atlet muda berbakat yang saat ini masih sekolah ada yang tetap membantu berjualan bakso hingga mengerjakan pekerjaan lainnya. “Pegulat Grobogan tidak manja. Selain latihan dan sekolah sesuai jadwal, mereka juga tetap mengerjakan kegiatan untuk membantu orang tua mencari uang untuk kehidupan sehari-hari,” tambahnya didampingi Danang, pelatih gulat Grobogan.

Saat ini, sebanyak 6 pegulat senior masih tetap berlatih baik di Grobogan maupun di kota lain sesuai pekerjaan mereka. “Untuk pegulat yunior, kita adakan latihan sekaligus mess bagi 10 pegulat muda yang ingin istirahat ditempat yang dipinjam dari Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan. Alhamdullilah, pada Popnas lalu satu medali emas berhasil diraih sehingga makin membanggakan Grobogan sebagai tuan rumah cabor Gulat ,” tambahnya.

Pencarian bibit-bibit muda, tambah dia, dilakukan dengan cara blusukan ke sekolah-sekolah plus memberikan pertunjukan langsung bagi siswa. “Banyaknya beasiswa yang diberikan oleh sekolah, sekarang makin banyak remaja ikut latihan gulat. Namun, tidak jarang mereka hanya lihat sekali terus lari mungkin takut beratnya latihan. Tapi beasiswa itu ketertarikan siswa makin tinggi,” ungkap Danang.

Pegulat Grobogan, tidak saja diwajibkan ikut latihan. Namun, mereka dibiarkan tetap menjalani kehidupan sebagaimana yang dilakukan sebelum ikut gulat. “Namun, pelatih tetap melatih mereka sesuai dengan jadwal yang tidak boleh dilanggar,” tambahnya. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel