Api Waisak Diambil dari Mrapen Abadi di Grobogan


GROBOGAN, Grobogantoday.com - Menjelang perayaan hari  Waisak yang akan dipusatkan di Candi Borobudur, Magelang, terlebih dahulu dilakukan pengambilan api di api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan, Minggu (27/5).

Di tempat yang dipercaya sebagai tempat Empu Supo, sang pande besi asal Kerajaan Demak Bintoro, pembuat keris untuk Sunan Kali jaga. ratusan Banthe (Bikhu Sangha), Bhikku, Bhiksu dan Lama menggelar doa di lokasi sumber api yang tidak pernah padam tersebut.



Ritual Puja Bhakti dimulai pukul sepuluh pagi dengan upacara dari majelis seperti Sangha Theravada, Sangha Mahayana, Sangha Tantrayana, Majelis Tri Dharma, Sangha Kasogatan, Majelis Mapanbumi, Sangha Madha Tantri dan Sangha Mahanikaya dari sejumlah Vihara di Jawa Tengah.



Ritual dilanjutkan pengambilan Api Alam di areal sumber api. Tidak saja pemuka agama Budha, prosesi pengambilan api yang kemudian akan dibawa secara marathon ke Candi Mendut utnuk disucikan. Prosesi pengambilan, melibatkan Pendeta Budha, Ketua Panitia David Herman Jaya, serta Plt. Ketua DPP Walubi Jawa Tengah, Ir. Arief Harsono, Kepala dispora Jateng Urip Sihabudin dan Sekda Kabupaten Grobogan Moh Soemarsono mewakili Bupati Grobogan.



“Api ala Mrapen merupakan lambang yang memancarkan cahaya gemerlapan, menghapuskan keadaan suram menjadi terang dan yang memberikan semangat menembus ketidaktahuan dalam kehidupan,” kata David Herman Jaya, ketua pengambilan api alam Waisak Nasional 2562 BE/2018, ditemui di sela prosesi Puja Bhakti.



Dari perlambang api alam, diharapkan menjadikan umat Buddha menemukan pelita dalam dasar hati sanubarinya, suatu cahaya cinta kasih dan welas asih.

“Sehingga lambat laun mampu menerangi bangsa untuk keluar dari kegelapan. Dengan penerangan di hati bangsa Indonesia dapat bangkit kembali menemukan kesejahteraan dan kebahagiaan,” tambahnya.



Sekda Kabupaten Grobogan Moh Soemarsono menjelaskan, Api merupakan salahsatu elemen alam yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Api merupakan simbol kehidupan, terang, hasrat dan semangat yang membuat pancaran cerah dan menghapus suram menjadi terang bersahaja.

“Sifat yang membakar, bermakna bahwa manusia hidup hendaknya harus senantiasa bersemangat dalam meraih cita-cita, selalu berkobar, bergairah untuk mencapai yang terbaik. Sifat api yang selalu naik ke atas bermakna dalam kehidupan manusia hendaknya selalu bercta-cita tinggi, jangan rendah diri karena potensi kita jauh lebih besar dari hambatan yang ada,” katanya.

“Sifat api yang panas, bermakna dalam kehidupan yang serba penuh masalah ini dibutuhkan banyak pemikiran banyak aksi sehingga kita tidak terbakar oleh masalah, tapi kitalah yang mengendalikan masalah sehingga semua menjadi tenteram,” katanya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel