Akibat Alih Komoditas,Petani Grobogan Kekurangan Pupuk


GROBOGAN - Curah hujan yang cukup tinggi di Kabupaten Grobogan,membuat petani yang terbiasa menanam kedelai beralih ke tanaman padi.Harno,salah satu petani di Desa Nambuhan mengatakan petani beralih menanam padi, sebab tanaman kedelai dan jagung tidak bisa hidup.”Curah hujan yang tinggi membuat area persawahan menjadi terendam banjir ” jelasnya.

Hujan tidak berhenti  menyebabkan tahun ini gagal tanam palawija. Upaya menanam padi bukan tanpa risiko, jika hujan berhenti maka padi yang tumbuh bisa kekurangan air. Dan petani menyiapkan mesin disel penyedot.

Kepala Dinas Pertanian TPH Grobogan Ir.Edhie Sudaryanto,MM mengatakan banyak petani yang tanam padi, karena musim tidak menentu. ”Sejak awal, saya tidak berani menyuruh  tanam palawija, sebab berisiko gagal,” terangnya.Dengan beralih ke tanaman padi bisa menjadikan luas lahan padi bertambah.

Eddie menambahkan,curah hujan tinggi hanya berpengaruh pada tanaman kedelai. Jika kembali ke padi, tidak masalah asalkan air cukup. ”Justru nanti luasan lahan padi malah akan bertambah.Curah hujan yang tinggi pada saat pembungaan dan pengisian polong berakibat produksi yang dihasilkan akan rendah," ungkapnya.

Dengan bertambahnya jumlah petani yang menanam padi,maka luasan area padi di Kabupaten Grobogan juga bertambah, yaitu sekitar 4.000 ha.Hal ini menambah masalah baru,yaitu tingginya kebutuhan pupuk untuk tanaman padi."Tanaman padi per ha butuh 350 Kg pupuk,sedangkan tanaman kedelai hanya butuh 50 Kg," terang Edhie.

Akibat alih komoditas,saat ini petani Grobogan kekurangan pupuk sebanyak 5.250 ton,masing-masing SP 36 sebanyak 1950 ton dan NPK sebanyak 3.300 ton.(ire)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel