Terkikis Seni Modern,Gondoriyo Langka


GROBOGAN -Tari Gondoriyo yang merupakan seni khas Kabupaten Grobogan kian redup  diterpa seni modern. Tari gondoriyo yang dulunya sangat diminati,kini mulai ditinggalkan. Tari yang biasanya berbarengan dengan pertunjukan reog ini biasanya digelar saat acara hajatan.
Tari Gondoriyo merupakan Perpaduan antara tari, teater dan gerak akrobatik. Ceritera diambil dari babad panji yaitu kisah cinta Raden Panji Asmara bangun dari Jenggala yang mempersunting Dewi Sekartaji dari Kediri. Untuk dapat mempersunting putri tersebut Raden Panji harus dapat mempersembahkan seekor singo barong yang dapat berbicara. Joko Lodro utusan Raden Panji dapat menangkap Singa Lodro di hutan Lodaya. Atas kemenangan inilah, maka tari gondoriyo ini tercipta.”Itu sebagai wujud kegembiraan atas tertangkapnya singo barong,” jelas Warsito, Kasi Kerjasama dan Promosi Seni Budaya Disporabudpar Grobogan.

Menurut Warsito,tari gondoriyo  memiliki regenerasi yang kurang baik.Dari sekitar 57 grup reog di Grobogan, tidak semuanya memiliki penari gondoriyo. “Yang punya penari hanya bisa dihitung dengan jari. Karena memang tari ini butuh teknik khusus ,fisik yang kuat serta kedisiplinan yang tinggi. Kalau sembrono bisa berakibat fatal,” jelasnya.

Penari gondoriyo biasanya adalah reog cekla-cekli(pasukan kuda), setelah melakukan aksi dengan kuda kepangnya, biasanya dilanjutkan dengan tari gondoriyo.

Yang menjadi daya tarik penonton adalah fenomena saweran. Biasanya seorang penari harus  mengambil uang saweran yang ditaruh di tanah oleh pemberi saweran, bahkan kadang ada penonton yang usil, dengan menaruh uang di mulut untuk diambil dengan mulut penari juga. “Kita mencoba memberikan pengetahuan kepada para pelaku seni gondoriyo untuk menerima saweran dari tangan saja, agar tidak terlihat negatif,” terang Warsito.(ire)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel