Api Abadi Mrapen, Jadi Penerang Waisak



GROBOGAN- Keabadian dan kealamian semburan api yang keluar di lubang yang dipercaya sebagai tempat pembakaran keris pesanan Sunan Kalijaga, kembali menjadi pusat perhatian umat Buddha Nusantara. Perayaaan hari keagamaan Tri Hari Suci Waisak yang jatuh pada Kamis (11/5), ditandai dengan pengambilan api yang ada di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Selasa (9/5).

Ratusan umat Buddha dari enam majelis agama baik dari Jawa Tengah maupun Jawa Barat, bahkan dari luar negeri, mengikuti prosesi pengambilan api menggunakan obor bambu. Sebelum pengambilan api, umat dari enam majelis Buddha menggelar doa didepan altar suci dipelataran komplek wisata yang telah di beli pemerintah Provinsi Jateng.Pengambilan api dan air sebelum perayaan Tri Hari Suci Waisak, dilakukan sebagai lambang kekuatan dan penerangan bagi umat Buddha dan Bangsa Indonesia.

"Pengambilan api alam di Mrapen, dilakukan setiap tahun karena api yang keluar dari alam murni hanya di Mrapen. Dan di Mrapen menunjukan sumber api yang selalu menyala dan belum kita temukan di tempat lain di negara ini," ungkap Pdt Dr Soedjito Kusumo, Ketua DPP Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi).

Api sebagai tanda penerangan diambil dari Kabupaten Grobogan, kemudian, api akan disemayamkan di Candi Mendut, Kabupaten Magelang, guna dilakukan prosesi doa bersama. Dari Mendut, api dan air kemudian dibawa ke Candi Agung Borobudur."Api Alam yang bersumber dari alam Mrapen merupakan lambang yang memancarkan cahaya gemerlapan, menghapuskan keadaan suram dan mengubah menjadi terang dalam kehidupan," tambahnya.

Dalam peringatan Waisak 2561 BE di tahun 2017, mengambil tema 'Meningkatkan Kesadaran untuk Menuju Kebijaksanaan'. Tema, diambil karena situasi bangsa kurang bijaksana. "Kita mengajak tingkatkan kebijaksanaan demi umat manusiaan. Bhineka tunggal ika, kita harus bisa mengikuti situasi di Indonesia banyak suku, bahasa, agama jadi biarpun beda namun kita tetap satu," ungkap dia.

Tema, tambah dia, diambil untuk kembali mengingatkan bahwa manusia hidup dalam waktu singkat sehingga dalam kehidupan harus berbuat kebajikan. “Buddha mengajarkan bahwa manusia harus berbuat kebajikan, jangan berbuat kejahatan sucikan hati dan pikiran. Kita perlu menyemangatkan umat Buddha seperti api karena api memberi penerangan bagi umat di dunia,” tambahnya.

Biksu Mahamirad Kemajari, asal Thailand, mengaku mengikuti prosesi pengambilan api dari Mrapen untuk kemudian juga akan mengikuti puncak hari Waisak di Candi Agung Borobudur. Urip Sihabudin, Kepala Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) meminta umat Buddha harusnya bisa menjadi tauladan bagi masyarakat budayakan rasa malu jika berbuat salah. "Budayakan rasa saling menghormati dan rasa saling welas asih," ungkapnya.(LK)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel