Bertaruh Nyawa Lintasi Jembatan Desa Rejosari


KRADENAN- Sungguh miris,  warga Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan , Kabupaten Grobogan  harus mempertaruhkan nyawanya saat melintasi jembatan sepanjang 59 meter yang melintasi sungai Ngrowo. Bagaimana tidak, setiap hari mereka harus melewati jembatan  diatasnya hanya berupa gelagar baja saja. Kalau tidak berhati-hati, sewaktu-waktu mereka bisa tercebur ke sungai.
Yang lebih miris lagi, saat gelagar belum terpasang. Saat banjir, siswa sekolah harus melintasi derasnya aliran sungai. “Biasanya diseberangkan orang tua mereka, namun jika tidak ada yang menyeberangkan mereka tidak berangkat sekolah,” tutur Isro Haryati, guru SD Negeri Rejosari 3.
Jembatan yang merupakan akses terdekat warga Desa Rejosari jika hendak ke Kradenan ini memang kondisinya dari tahun ke tahun sangat memprihatinkan. Menurut Saidi(56), warga setempat,  tahun 70-an jembatan tersebut awalnya terbuat dari bambu, namun baru beberapa tahun jembatan hilang terbawa banjir. “Kalau hanyut, warga harus bergotong-royong membuat jembatan lagi. Padahal kalau sekolah SMP atau SMA lewat jembatan ini jauh lebih dekat,” tuturnya.
Menurutnya, sejak dibangun tahun 2014 lalu dan diberi gelagar diatas pilar jembatan untuk mempermudah akses warga, sudah banyak warga yang tercebur sungai saat mengendarai sepeda motor. Dari empat gelagar yang ada, roda kendaraan hanya bisa melintas pada satu gelagar dan tidak bisa beralih ke gelagar yang lain. Jadi butuh kehati-hatian lebih agar tidak tercebur sungai. “Rumah saya kan sangat dekat dengan jembatan. Jadi tahu pasti jika ada yang jatuh, terakhir kemarin ada yang sampai patah tulang,” tuturnya.
Sri yanto, salah seorang warga mengaku terpaksa melintas walaupun  diliputi perasaan takut. “Mau  bagaimana lagi, ini kan akses satu-satunya. Walaupun harus was-was karena jembatannya bergoyang-goyang,” tuturnya.
Lapar, Kades Rejosari saat dimintai keterangan menjelaskan bahwa karena keterbatasan dana, pihaknya harus melakukan pembangunan jembatan secara bertahap. Ia mengaku telah mengajukan beberapa kali proposal ke propinsi dan kabupaten, namun tidak pernah ditanggapi. “Sejak ambrol di tahun 2013, saya bersama BPD  sepakat untuk membangun jembatan tersebut dengan biaya dari ADD secara bertahap. Alhamdulillah 2014 kita bisa membangun 3 pilar jembatan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengecoran jembatan akan dilaksanakan tahun 2017. Ia berharap warga harus bersabar karena pihaknya juga harus memikirkan akses jalan di desanya. “Dengan keterbatasan dana kita juga harus memikirkan yang lainnya. Tidak hanya jembatan itu saja,” jelasnya.(iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel