Mengintip Sentra Pembuatan Sangkar Burung Desa Teguhan


GROBOGAN- Menjadi pengrajin sangkar burung menjadi pilihan warga Desa Teguhan, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan. Tanpa harus jauh dari keluarga, mereka bisa bekerja di rumah mereka masing-masing. Tercatat lebih dari 200 kk menggantungkan hidupnya dari pembuatan kerajinan  berbahan baku kayu dan bambu ini.

(Alm) Mbah Karsimin dan Sonto Kasiman merupakan dua tokoh yang pertama kali mengenalkan sangkar burung di Desa Teguhan. Menurut Sutiyanto(56), penerus ketrampilan sangkar burung Teguhan, mereka berdualah yang mengajarkan bagaimana membuat sangkar burung. “Sejak usia 12 tahun saya sudah belajar,” ungkapnya.

 Menurutnya, sangkar pertama kali ada hanya berbentuk bulat, terbuat dari satu ruas bambu yang dibelah-belah menjadi jeruji, sedangkan pangkalnya digunakan sebagai gantungan. Antar jeruji dirangkai oleh semacam tali dari bambu. “Semuanya berbahan bambu, dasarnya berbentuk bulat,” tutur Sutiyanto.

Seiring berjalannya waktu, model sangkar burung semakin bervariasi. Berbagai model bisa dibuat tergantung permintaan konsumen. Pengepul pun datang sendiri ke rumah pembuat sangkar burung. “Pada tahun 80an saya masih menjajakan sangkar burung ini sampai Solo dan Jogja. Sekali berangkat paling-paling bawa 50 sangkar. Dari sini naik bus,” terangnya.

Banyak sekali pengepul dari luar kota seperti Blora,Kudus,Pati, Demak, dan beberapa kota di Jawa Timur datang sendiri untuk mengambil sangkar burung. Selain itu ada juga pengrajin yang menitipkan hasil kerajinan bambu di pasar atau toko-toko yang sudah menjadi langganan. Harganya pun  bervariasi mulai dari 30 ribu sampai ratusan ribu tergantung ukuran dan modelnya. “Biasanya kalau yang dari luar jawa seperti Sumatra, Sulawesi, Papua dan Kalimantan kita paketkan. Yang paling mahal ukir-ukiran, harganya mencapai jutaan rupiah,” jelasnya.


Pembuat sangkar burung di desa ini tak hanya kaum pria saja, para wanita pun sangat terampil membuat sangkar burung. Mulai anak umur sekolah hingga  ibu rumah tangga piawai membuatnya.  Membuat jeruji, bagian-bagiian sangkar dari kayu hingga merangkainya menjadi sangkar merupakan pekerjaan mudah bagi mereka. “Semuanya bisa. Saya dari sekolah dulu sering bantu membuat,” aku Santi(18), salah satu pengrajin sangkar wanita.

Menurutnya, produksi sangkar burung di Desa Teguhan ini sangat membantu perekonomian warga. Selain memenuhi kebutuhan hidup, produksi sangkar burung ini bisa memperluas lapangan pekerjaan. “Warga sini bisa beli motor, memperbaiki rumah, beli sawah karena sangkar burung ini,” pungkas Santi. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel