Pegunungan Kendeng Harus Dilindungi


PURWODADI-Topik karst dan segala permasalahannya mengemuka sejak beberapa tahun terakhir. Terutama sekali terkait dengan munculnya “gesekan” antar sektor kepentingan, di antaranya pemanfaatan kawasan karst (industri) dengan kepentingan konservasi karst dan air tanah di bawahnya (masyarakat dan LSM).Berbagai permasalahan ini dibahas dalam worksop pengelolan kawasan bentang alam karst Sukolilo Kabupaten Grobogan.
Pembahsan baik dari segi luasan yang berubah paska dibuatnya peraturan gubenur , maupun kondisi sumber air dan sumber kekayaan alam. Asisten II Setda Kabupaten Grobogan, Achmadi Widodo, menjelaskan, sempat terjadi perubahan  luasan karst Sukolilo.
"Karena Pergub luasan karst Sukolilo, berkurang banyak, tinggal dua kecamatan saja, yakni Grobogan dan Brati. Sehingga para penambang berbondong-bondong datang. Namun, luasan kembali paska dikelurkanya keputusan mentri," ungkapnya, saat membuka acara di lingkungan Sekda Grobogan.

Tahar, pemerhati lingkungan mengungkapkan potensi seperti sumber mata air, goa-goa, air terjun seharusnya bisa dioptimalkan dengan baik menjadi obyek wisata. “Sayang sekali dinas terkait yang diundang tidak datang,” ungkapnya.

Dari pandangan Muritno, perwakilan warga desa Klambu, kondisi karst Sukolilo perlu mendapat perhatian. "Karena gunung Kendeng (krst Sukolilo) gundul dan tinggal batu padas saat ini desa saya sering kebanjiran. Padahal sejak kecil belum pernah kebanjiran," ungkapnya.

Supriyadi, pemerhati lingkungan mengaku, dari data di pengairan 98% air di sungai Lusi langsung lari ke laut. "Karst Sukolilo saat ini banyak memiliki sungai bawah tanah sehingga perlu diperhatikan," ungkapnya.

Sedang Gunretno, Ketua JMPPK, peserta tamu dari Sukolilo, Pati mengungkapkan perlindungan bagi 3 kabupten yakni Pati 3 kecamatan, Grobogan 6 Kecamatan dan blora yang awalnya satu kecamatan saat ini meliputi dua kecamtan."Grobogan diuntungkan dengan keputusan Mentri ESDM karena ada tambhan 18 ribu kentar. Sedang pati berbeda ada pengurangan 5 ribu hektar yakni dri 11 ribu hektar tinggal 6 ribu hektar," ungkapnya.
Pengurngan kawasan lindung karst terjadi di Kecamatan Todangan dan tunduran, Kabupten Pati. 

Prof Suryo Adi Wiboyo, pemteri dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) menjelaskan, pembahasan karst dilakukan secara serempak di Grobogan, Pati, Rembang dan Blora. "Untuk jatim dilakukan di Tuban, Bojonegoro dan Lamongan," imbuhnya.

Adm KPH Purwodadi, Dewanto yang hadir dalam workshop  mengaku senang dengan semangat warga yang peduli dengan lingkungan. “Butuh sinergi semua pihak untuk penanganan pegunungan kendeng,” ungkapnya.

Workshop digelar untuk mengetahui bagaimana kondisi diwilayah karst. Baik dari kekayaan alam maupun lingkungan. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel