Tahun Ini, Desa Rejosari Anggarkan 200 Juta untuk Jembatan Maut


KRADENAN- Banyaknya infrastruktur yang harus diperhatikan, membuat pihak desa hanya mampu menganggarkan sebesar 200 juta untuk pembangunan jembatan maut di Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan , Kabupaten Grobogan.  Sampai saat ini, ADD yang menjadi tumpuan pun belum juga cair. Demikian diungkapkan Lapar, Kades Rejosari, saat ditemui di kediamannya, kemarin (15/8). “Kami saat ini sedang mengurus pencairan ADD. Kita tunggu saja,” tuturnya kepada Grobogan Today,  Selasa (15/8).

Selain mengandalkan ADD, pihaknya juga mendapatkan bantuan dana aspirasi dari anggota dewan. Dia berharap warga sedikit bersabar menunggu pembangunan jembatan tersebut. “Ini juga menunggu gambar jembatan dari Dinas PUPR,” ungkapnya.

Ia menambahkan, luasnya desa serta jarak dusun yang cukup jauh membuat alokasi untuk pembangunan jalan cukup besar. Sehingga pihaknya tidak bisa serta merta hanya memperhatikan satu titik tanpa memperhatikan titik yang lainnya. “Makanya kita bagi-bagi, agar pembangunan menjadi merata,” imbuhnya.

Dana  200 juta yang ia siapkan, rencananya akan dipergunakan untuk penambahan besi gelagar dan pengecoran. “Kalau memang dana sebesar itu tidak cukup, maka akan dilanjutkan tahun berikutnya. Tapi kita harapkan pembangunan tuntas semua,” tuturnya.

Tentang kondisi jembatan yang sangat membahayakan warga yang melintas, pihaknya telah mengingatkan warga untuk berhati-hati. Ia juga mengaku prihatin jika sampai ada korban yang jatuh saat melintas. “Saya sudah berulang kali mengingatkan warga untuk berhati-hati, dan jembatan hanya untuk pejalan kaki saja. Namun karena memang jalan ini adalah akses utama, warga memaksa untuk melintas,” jelasnya.



Kondisi Jembatan Membahayakan
Sungguh miris,  warga Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan , Kabupaten Grobogan  harus mempertaruhkan nyawanya saat melintasi jembatan sepanjang 59 meter yang melintasi sungai Ngrowo. Bagaimana tidak, setiap hari mereka harus melewati jembatan  diatasnya hanya berupa gelagar baja saja. Kalau tidak berhati-hati, sewaktu-waktu mereka bisa tercebur ke sungai.

Yang lebih miris lagi, saat gelagar belum terpasang. Saat banjir, siswa sekolah harus melintasi derasnya aliran sungai. “Biasanya diseberangkan orang tua mereka, namun jika tidak ada yang menyeberangkan mereka tidak berangkat sekolah,” tutur Isro Haryati, guru SD Negeri Rejosari 3.

Jembatan yang merupakan akses terdekat warga Desa Rejosari jika hendak ke Kradenan ini memang kondisinya dari tahun ke tahun sangat memprihatinkan. Menurut Saidi(56), warga setempat,  tahun 70-an jembatan tersebut awalnya terbuat dari bambu, namun baru beberapa tahun jembatan hilang terbawa banjir. “Kalau hanyut, warga harus bergotong-royong membuat jembatanlagi. Padahal kalau sekolah SMP atau SMA lewat jembatan ini jauh lebih dekat,” tuturnya.

Menurutnya, sejak dibangun tahun 2014 lalu dan diberi gelagar diatas pilar jembatan untuk mempermudah akses warga, sudah banyak warga yang tercebur sungai saat mengendarai sepeda motor. Dari empat gelagar yang ada, roda kendaraan hanya bisa melintas pada satu gelagar dan tidak bisa beralih ke gelagar yang lain. Jadi butuh kehati-hatian lebih agar tidak tercebur sungai. “Rumah saya kan sangat dekat dengan jembatan. Jadi tahu pasti jika ada yang jatuh, terakhir kemarin ada yang sampai patah tulang,” tuturnya.

Sri yanto, salah seorang warga mengaku terpaksa melintas walaupun  diliputi perasaan takut. “Mau  bagaimana lagi, ini kan akses satu-satunya. Walaupun harus was-was karena jembatannya bergoyang-goyang. Apalagi kalau abis hujan, licin banget,” tuturnya. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel