Warga Terdampak Longsor di Wirosari Harapkan Penanganan Cepat


WIROSARI – Sejumlah warga terdampak longsor di Kelurahan Kunden, Kecamatan Wirosari meminta agar penanganan bencana longsor segera dikerjakan. Mereka harus bertahan  hidup dengan perasaan was-was di lokasi longsoran jalan itu. Saat ini, kondisinya pun makin parah. Longsor yang sempat menyebabkan dua rumah roboh, yakni milik Witono (57) dan Siti Rohmah (76), warga setempat.

Robohnya rumah tersebut disebabkan tanah di bawah bangunan terkikis derasnya air sungai Tirta yang ada di samping ruas jalan tersebut. Dua rumah yang roboh ini posisinya memang berdekatan dengan pinggiran sungai. “Saya selaku camat telah beberapa kali mengusulkannya ke kabupaten. Namun karena keterbatan anggaran, sampai saat ini juga belum ada realisasinya,” ungkap Suroto, Camat Wirosari.

Selain itu, belasan rumah lainnya juga terancam mengalami nasib serupa jika longsornya bahu jalan tidak segera ditangani. Karena kondisinya dirasa mengkhawatirkan, beberapa warga yang berdekatan dengan lokasi memilih pindah ke tempat lainnya. “Memang beberapa warga yang memiliki lokasi lain, memilih mengosongkan tempatnya. Kalau seperti saya ya terpaksa tinggal disini,” tutur Suyono, korban longsor.

Ia menuturkan, puluhan meter tanahnya telah ikut larut longsoran. Walaupun begitu, luasan tanah dalam pajak yang harus ia bayar tetap sama. “Bayar pajaknya juga sama saja. Kami berharap, bencana longsor ini bisa ditangani lebih serius. Sebab, longsornya ruas jalan ini sudah berlangsung lama dan membuat repot warga,” kata Teguh, warga setempat.

Peristiwa longsor di Kelurahan Kunden itu terjadi 26 April 2014 lalu. Peristiwa ini menyebabkan lima rumah warga retak dan satu rumah lainnya terpaksa dirobohkan pemiliknya karena khawatir ikut longsor ke dalam sungai yang ada di sebelahnya.

Akibat peristiwa ini, jalan penghubung ke beberapa desa tersebut putus total dan menyebabkan warga harus mencari jalur alternatif dengan jarak tempuh yang lebih jauh. 

Jalan longsor sepanjang 120 meter dengan kedalaman sekitar 9 meter itu sebelumnya sudah pernah diuruk dan dibuatkan talud di pinggir sungai. Namun, tanah yang dipakai menguruk jalan longsor itu tidak berselang lama kembali ambles. “Waktu itu kita anggarkan 100 juta untuk penanganan darurat sepanjang 120 meter dengan kedalaman sekitar 7 meter,ternyata tak tahan lama,” jelas Agus Sulaksono, Kepala BPBD Grobogan.

Menurutnya, telah dilakukan penelitian oleh dinas terkait, yang hasilnya jalan, sungai dan warga harus direlokasi. “Warga harus relokasi. Tanah disekitar longsoran berongga,” tuturnya.(iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel