Jamasan Bende Becak di Desa Katekan Dibanjiri Pengunjung


BRATI - Setiap  tahun bertepatan dengan bulan Sapar(penanggalan Jawa) selalu di peringati Jamasan Pusaka Bende Becak Nyi Nawang Wulan .Acara tradisi yang menyedot perhatian masyarakat Grobogan bahkan dari luar kota, ribuan masyarakat berjubel memadati area yang di pergunakan untuk ritual penjamasan pusaka Nyi Nawang Wulan,Di Dusun Pasiraman,Desa Katekan,Kecamatan Brati,Jumat (3/11).
“Acara Jamasan Bende Becak selalu diadakan setiap bulan Sapar.Untuk harinya adalah Jumat Pahing atau Jumat Pon,dipilih yang tanggal muda,tetapi diatas tanggal 10,” jelas Siswo(74),salah satu sesepuh desa.
 Sejak pagi hari lokasi penjamasan, rumah juru kunci Purwono sudah dikerumuni banyak orang yang membawa botol atau pun tempat minum. Botol-botol tersebut digunakan untuk mengambil air bekas jamasan atau air yang sudah dicelup benda peninggalan dari leluhur  itu.
Pukul 13.00 WIB acara penjamasan dimulai.Bende becak yang disimpan di rumah juru kunci diarak menuju tempat penjamasan.Sembilan orang sesepuh yang sudah ditunjuk menjadi pengiring menyertai juru kunci menuju tempat ritual.”Setelah dibuka dari peti pusaka,bendebecak kemudian dijamasi, selanjutnya dibedaki,” tutur Purwono, sang juru kunci.
Air bekas jamasan dan bedak inilah yang diperebutkan pengunjung.Kasmi(60),warga Katekan yang sekarang berdomisili di Purwodadi  ini  mengatakan datang ke tanah kelahirannya  sengaja ingin mengikuti kemeriahan acara penjamasan.”Sekalian ingin mengambil airnya,agar mendapatkan berkah,usahanya lancar,” jelasnya.
Ia mengaku kebiasaannya datang ke penjamasan bende becak sudah turun temurun dan merupakan pesan dari sang kakek. Dan membawa pulang air jamasan merupakan keharusan ketika datang ke kegiatan sakral itu.
“Kami turun temurun setelah simbah kami dulu titip pesan apa yang dilakukan simbah diteruskan turun temurun. Mengambil air jamasan bagi kami wajib untuk oleh-oleh, namun kami tidak musrik karena kami juga percaya kepada Allah SWT,”tuturnya.
Lain halnya dengan Parmo(57),dia mengaku jauh-jauh dari Kudus untuk mengikuti seluruh prosesi penjamasan. “Sejak saya muda ,saya selalu hadir di acara ini. Saya menunggu simbol yang akan muncul setahun ke depan. Di dalam peti ada apanya dan suaranya nyaring tidak, itu dipercaya sebagai perlambang,” tuturnya.
Widya(22),salah satu pengunjung dari Purwodadi mengaku penasaran dengan prosesi jamasan bende becak.”Karena penasaran saya datang kesini.Nyampek berdesakan  berebut air dan bedak,katanya sih bikin awet muda,” jelasnya.
Pujiyanto,seorang pemerhati wisata Grobogan mengatakan, Ritual jamasan Bende becak merupakan acara ritual dan budaya yang menyedot banyak wisatawan.Tentunya harus ada penyempurnaan-penyempurnaan di setiap tahunnya agar lebih menarik lagi.
“Secara substansial bahwa kegiatan ini bisa menjadi bagian industri pariwisata. Maka kami berpesan kepada panitia dan pihak desa serta dinas terkait  agar dari waktu ke waktu disempurnakan agar lebih menarik dan menjadi pesona wisata di Kabupaten Grobogan,”tandasnya. (RE)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel