Belasan Tahun Bertahan Dibawah Ancaman Longsor


PURWODADI - Musim hujan seperti ini adalah saat-saat menegangkan bagi 7 KK yang rumahnya berada  di bantaran Sungai Lusi di Dusun Ngrebo, Desa Kedungrejo, Kecamatan Purwodadi. Bagaimana tidak, setiap air sungai Lusi meluap maka tanah di tepian bantaran yang berada tepat di belakang rumah mereka sedikit demi sedikit tergerus hanyut bersama derasnya arus sungai Lusi.

 Longsoran tanah perkampungan sepanjang kurang lebih 200 meter yang sudah berlangsung selama 10 tahun terakhir ini, kini kondisinya makin mengkhawatirkan. Sudah 6 KK yang memindahkan rumahnya ke lokasi lain yang lebih aman karena kondisinya sudah membahayakan.”Yang lain sudah pada pindah, tanahnya sudah habis tergerus air,” jelas Priyo, warga yang nekad bertahan.

Longsoran makin lama makin dekat dengan rumah warga yang masih mencoba bertahan di sana, bahkan hanya tersisa tanah beberapa meter saja di belakang rumah warga yang ada. “Sebenarnya ngeri juga, tapi mau bagaimana lagi. Tanah tinggal ini saja yang ditinggali,” tutur Hadi kepada Grobogan Today.

Jalan aspal penghubung Desa Kedungrejo dan Desa Nglobar juga sudah lama terputus sepanjang 50an meter yang hanyut  terbawa derasnya sungai Lusi. Kini jalan yang putus itu oleh masyarakat setempat jalurnya dibelokkan ke pekarangan warga sebagai jalan darurat untuk lalu- lintas warga.Sementara jalan utama pindah ke jalan lain. “Sekarang jalur utamanya muter,” jelas Hadi.

Sementara itu menurut keterangan Sismiharto, Sekdes Kedungrejo, bahwa rencana penanggulangan longsor ini sudah diajukan di Musrenbang  tiap tahunnya, namun sampai saat ini belum ada tidak lanjutnya. Dinas-dinas terkait juga sudah sering melakukan pengecekan ke lokasi namun juga tidak pernah ada kelanjutannya. “Kita sudah berupaya semampu kami untuk mengatasi longsor tersebut,” jelasnya.

Korban tinggal di Tanah Desa
Saat ini untuk solusi sementara  warga korban longsor tersebut terpaksa memindahkan rumahnya di tanah milik Desa Kedungrejo. Seperti halnya Muh. Anik, dia mengaku tinggal di tanah milik desa karena tidak memiliki tanah lagi. “Mau tinggal dimana lagi. Tanah sudah hilang semua, bisanya tinggal disini,” keluhnya.

Warga berharap longsor di desanya segera diatasi. Longsoran saat ini hanya berjarak 1 meter dari badan jalan utama. “Kalau jalan itu longsor semua bagaimana. Kami harap longsor segera ditangani,” pinta warga.

Sampai kapan korban longsor akan terus berdiam di tanah desa? Tidak ada yang tahu. (IYA)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel