Kekeringan Ancam Grobogan


Grobogan – Dampak datangnya musim kemarau telah mulai dirasakan di beberapa desa di Kabupaten Grobogan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Grobogan telah mengalokasikan dana sebesar 135 juta Rupiah untuk penanggulangan kekeringan. Terutama, persiapan untuk melaksanakan drop air bersih ke beberapa desa langganan bencana kekeringan. Demikian diungkapkan Kepala BPBD Grobogan Agus Sulaksono kepada wartawan. “Untuk penanganan bencana kekeringan tahun ini, sudah dialokasikan anggaran sekitar Rp 135 juta. Dana ini disiapkan untuk melakukan drop air bersih pada masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, sampai saat ini belum ada laporan desa yang terkena bencana kekeringan. Meski demikian, upaya penanganan sudah disiapkan. Pihaknya telah berkoordinasi dengan PDAM Grobogan untuk persiapan menyalurkan droping air jika sewaktu-waktu dibutuhkan. “Biasanya kita bekerjasama dengan PDAM. Jika sewaktu-waktu dibutuhkan mereka telah siap,” jelasnya.

Menurut Agus, dana untuk penanganan kekeringan tiap tahun selalu disiapkan. Namun, khusus tahun 2016 lalu, dana yang disiapkan praktis tidak terpakai. Soalnya, tahun lalu curah hujan masih sering turun ketika musim kemarau. Kondisi ini menyebabkan masyarakat tidak kesulitan air.”Dari 280 desa/kelurahan yang ada, hampir separuhnya rawan bencana kekeringan. Sementara dari 19 kecamatan, hanya ada empat kecamatan yang relatif  aman dari bencana kekeringan, yakni Kecamatan Godong, Gubug, Klambu dan Tegowanu. Sedangkan pada tahun 2015 jumlah desa yang terkena bencana kekeringan cukup banyak. Jumlahnya mencapai 100 desa yang tersebar di 14 kecamatan,” tambahnya.

Dari pantauan Grobogan Today , di beberapa desa telah mulai mengalami kekeringan. Warga yang biasanya mengandalkan sumur mereka untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, saat ini harus membeli air atau mengambil air di sumur yang belum kering. “Saya harus membeli air per toren(tangki air) seharga 80 sampai 100 ribu. Itu untuk kebutuhan satu minggu,” jelas Murjiyem, warga Desa nambuhan, Kecamatan Purwodadi.

Ia menambahkan, sebelumnya ia mengandalkan saluran PDAM. Namun saat ini  saluran PDAM di daerahnya telah mati selama setahun lebih. “Kalau musim penghujan masih tertolong sumur. Kalau kemarau seperti ini sumur kering semua,” keluhnya. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel