Tunggakan BPJS di RSUD Purwodadi Mencapai 24 Miliar


PURWODADI, Grobogantoday.com -  Walaupun tunggakan  klaim BPJS RSUD Soedjati Purwodadi cukup besar, yakni Rp 24 Miliar, namun pelayanan tetap berjalan normal. Pihak rumah sakit harus memutar otak agar pasien tetap terlayani seperti biasa. Demikian diungkapkan  Wakil Ketua Tim Pengendali Pelayanan RSUD Dr Soedjati Purwodadi, Titik Wahyuningsih.
 
“Sebelumnya klaim per bulan lancar. Baru tahun ini kita rasakan tersendat. Untuk tahun ini baru terbayar hingga bulan April saja. Untuk menyikapinya,  lebih diketatkan pengeluarannya saja.  Seperti  efisiensi penggunaan listrik, air dan lain-lainya. Tetapi tidak mengorbankan pelayanan terhadap pasien,” katanya, Senin (24/9/2018).
 
Peraturan Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan (Perdirjampelkes) Nomor 4 Tahun 2018 yang baru diterima pihak RS , menyebabkan pasien tidak lagi bisa membuat rujukan ke rumah sakit pilihan yang dia kehendaki dari sisi kualitas layanan. Di aturan tersebut, BPJS telah mengatur secara sistematis, pasien wajib mendapat tindakan kali pertama dari fasilitas kesehatan tingkat pertama atau dikenal faskes pertama sebelum lanjut ke RS rujukan.
 
“Pasien wajib mendaftarkan ulang rujukan mereka melalui online terlebih dulu. Rujukan yang diberi istilah rujukan berjenjang ini sudah dimulai sejak bulan Agustus, apabila sudah terdaftar melalui online otomatis BPJS sudah akan menentukan RS atau faskes pertama dengan sistem radius,” jelasnya.
 
Menurutnya, semenjak ada peraturan tersebut, jumlah pasien turun drastis. Sebelumnya, sehari ada sekitar 500 sampai 600 pasien yang berobat dengan menggunakan kartu BPJS. Namun saat ini  hanya sekitar 200 orang saja  tiap harinya. “Begitu juga dengan rawat inap juga mengalami penurunan. Kita  memiliki 436 tempat tidur. Sebelumnya terisi sekitar 70  sampai 80 persen, namun sekarang untuk mencapai 60 persen sulit.  Paling hanya  terisi sekitar 50 persen jumlah bangsal saja ,” katanya.
 
Pihak rumah sakit berharap agar BPJS Kesehatan segera membayarkan tunggakan tersebut untuk mempertahankan operasional rumah sakit. “Kita mengelola keuangan sendiri, namun keuangan tetap menipis. Kita juga harus memikirkan karyawan, pembangunan gedung juga,” imbuhnya.  (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel