Tim Watimpres Sambangi Petani Kedelai di Nambuhan


GROBOGAN - Tim Dewan Pertimbangan Presiden yang dipimpin Jan Darmadi, mengunjungi Kabupaten Grobogan, Rabu(25/5), untuk melihat realitas kehidupan petani di daerah tersebut. Sebelum bertemu petani, tim terlebih dahulu bertemu Bupati Grobogan dan dinas terkait.
Salah satu yang dikunjungi adalah Desa Nambuhan, Kecamatan Purwodadi, yang dikenal sebagai penghasil kedelai terbaik yakni kedelai varietas Grobogan. Jawa Tengah  merupakan sentra produksi kedelai terbesar kedua di Indonesia, dengan kontribusi sebesar 14,03 persen. Sedangkan produksi  kedelai di Kabupaten Grobogan mencapai 48.316 ton pada 2016, yang berarti memberi kontribusi 38,7 persen dari total produksi Jawa Tengah. 

Di Desa Nambuhan, tim watimpres melakukan pertemuan dengan para petani. Tim ingin mengetahui secara pasti kondisi real di lapangan yang kemudian akan dijadikan bahan masukan untuk kebijakan presiden. “Kalau kita tahu secara langsung permasalahan yang terjadi di lapangan, kita bisa mengkaji formula apa yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut. Sudah saatnya pertanian kita naik kelas, petani lebih sejahtera,” jelas Jan Darmadi.
Andi Perdana Putra, salah seorang anggota tim pengkaji watimpres tercengang saat mengetahui kedelai varietas Grobogan mampu memproduksi 3,2 ton per hektar. “Biasanya di daerah lain, kedelai hanya mampu menghasilkan 1 sampai 1,5 ton per hektar. Disini malah 3,2 ton, namun kenapa petaninya belum sejahtera. Ini yang perlu kita pecahkan,” tuturnya.

Ia menuturkan setiap daerah mempunyai keunggulan komoditas. Keunggulan ini jangan sampai dihilangkan atau dipatahkan oleh regulasi, namun justru harus diusahakan untuk dipertahankan. Kabupaten  Grobogan sebagai daerah penghasil kedelai maka harus dilihat bagaimana masyarakat dapat bertahan dengan komoditas tersebut. “Yang terpenting kehidupan petani sejahtera,” tuturnya.



Sahara, anggota tim pengkaji watimpres yang lain  menuturkan petani harus konsentrasi dalam budi daya kedelai. Konsentrasi dibutuhkan agar didapat kualitas kedelai terbaik yang dapat menangkal kedelai impor. Ia mengaku pernah membawa 14 jenis varietas kedelai ke pelaku industri. Dari 14 jenis tersebut, kedelai varietas Grobogan lah yang dipilih. “Saat ini pelaku industri masih sangat tergantung dengan kedelai impor. Mereka mau saja memakai kedelai Grobogan, asal petani mampu menjaga kontinuitas dalam produksi. Namun sampai saat ini petani belum sanggup karena masalah cuaca,” terangnya.


Produsen Cabai dan bawang Merah

Cabai dan bawang merah juga merupakan komuditas yang mengalami fluktuasi harga konsumen yang sangat tinggi. Hal ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. Pemicu kenaikan komuditas ini sesungguhnya bukan berasal dari produksi di tingkat petani atau minimnya pasokan, namun permainan di tingkat pengecer.”Untuk komuditas bawang merah dan cabai, kita mengalami surplus dan dipasok ke beberapa kabupaten tetangga hingga luar propinsi, terutama DKI Jakarta dan Sumatra,” jelas Bupati Grobogan, Sri Sumarni di hadapan tim watimpres.

Pada tahun 2016 luas panen bawang merah Grobogan yaitu 888 hektar, dengan produksi 7.951 ton. Cabai merah dengan luasan panen 363 hektar mampu berproduksi 3.563 ton. Sedangkan cabai rawit, dengan luasan panen 326 hektar mampu berproduksi 3.683 ton. “Petani kita juga telah melakukan pengembangan benih bawang merah asal biji , atau lebih dikenal dengan TSS. Bawang merah kita juga mendapat juara 1 nasional,” ucapnya bangga.

Bupati berharap, dengan datangnya watimpres dan tim pengkaji di Kabupaten Grobogan bisa memberi kontribusi pada permasalahan produksi dan tata niaga kedelai, cabai dan bawang merah nasional. “Semoga kesejahteraan petani akan semakin meningkat,” harapnya.

Selain menyambangi petani kedelai, tim watimpres juga melihat produksi bawang merah di Kecamatan Penawangan dan produksi cabai di Kecamatan Gubug. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel