-->
yQRsgXYtnqhElJ0qG98ow6B0hsUDuvl7mVOesb9a
Cerita Siswa di Grobogan, Jalan Kaki Tembus Hutan ke Sekolah

Iklan Billboard 970x250

Iklan 728x90

Cerita Siswa di Grobogan, Jalan Kaki Tembus Hutan ke Sekolah

Para siswa berjalan kaki menuju sekolah. 

GROBOGANTODAY - Potret buram dunia pendidikan ini masih dirasakan anak-anak sekolah di Dusun Kalitengah, Desa Rejosari, Kradenan, Grobogan, Jawa Tengah. Setiap hari mereka harus melintasi hutan dengan kondisi jalan yang memprihatinkan. 

"Setiap hari kami jalan kaki ke sekolah bersama teman-teman. Kami harus melewati hutan dengan jalan yang rusak dan licin," kata Rahayu Mulyani, siswi SMP Negeri 3 Gabus, Selasa (7/3/2023). 

Bersama dengan teman-temannya, ia harus menempuh perjalanan sejauh 3 kilometer utuk mendapatkan ilmu pengetahuan di bangku sekolah. Yakni dengan melewati jalan kampung rusak dan juga menyusuri kawasan hutan. 

"Harus bareng teman, dorong-dorongan motor. Motornya harus diangkat, pokoknya sulit. Pernah jatuh juga," ujarnya. 

Hal senada diutarakan, Said, siswa kelas 8 SMP Negeri 3 Gabus, apabila musim penghujan, jalan tidak bisa dilewati dengan sepeda motor. Ia bersama teman-temannya terpaksa jalan kaki menuju sekolah tanpa alas kaki. 

"Sepatu saya lepas. Biasa cuci kaki di masjid dulu sebelum masuk ke sekolah," ungkapnya. 

Dua orang siswa sekolah dasar berjalan kaki menyusuri hutan jati. 


Ia bersama teman-temannya pun berharap agar pemerintah desa maupun kabupaten bisa membangun akses jalan yang baik agar bisa lebih nyaman untuk berangkat ke sekolah. 

"Kami mohon kiranya pemerintah bisa membuat jalan yang baik agar kami lebih aman ke sekolah," harapnya. 

Hal senada juga dikeluhkan Marmi(45), warga Dusun Kalitengah, Desa Rejosari. Menurutnya, sejak kecil hingga punya cucu, akses jalan di kampungnya tak pernah bagus. Karena kondisi jalan yang rusak parah, ia mengaku takut membawa sepeda motor. 

"Saya terpaksa menjemput anak yang duduk di kelas 3 SD Negeri 1 Keyongan dengan jalan kaki. Kalau habis hujan terpaksa saya gendong, agar tidak kotor," katanya. 

Ia menambahkan, warga memilih menyekolahkan anaknya di Desa Keyongan, Kecamatan Gabus karena jaraknya lebih dekat. 

"Jalan ke Desa Rejosari sangat jauh, kondisinya juga jelek. Buruknya akses jalan ini sudah terjadi sejak puluhan tahun. Jalan ini merupakan satu-satunya akses keluar masuk desa," katanya.

Kondisi jalan yang rusak juga menyulitkan warga desa yang hendak melahirkan. Warga harus mengangkatnya menggunakan tandu. 

"Pokoknya susah, orang sakit atau melahirkan harus diantar menggunakan tandu. Kemarin anak saya pas mau melahirkan juga," ujarnya. 

Kades Keyongan, Budi Hartono menjelaskan, pihaknya sudah berusaha memperbaiki akses jalan dengan makadam sepanjang kurang lebih 500 meter. Jika masuk hutan, tidak diperbolehkan pihak Perhutani. 

"Yang masuk wilayah Desa Keyongan sudah saya makadam. Itu jalan hutan terus motong petak. Kemarin sudah saya beri Jalan Usaha Tani, masuk hutan dimarahi mantri hutan, " ungkapnya.

Baca Juga
SHARE

Related Posts

Subscribe to get free updates

Post a Comment

Iklan Tengah Post