Seni Kentrung Yang Kian Langka



GROBOGAN - Kesenian Kentrung sudah dikenal sejak lama,namun seni yang didominasi sejumlah alat musik membranophone (rebana/trebang) tersebut nasibnya cukup tragis. Seni kentrung  menyampaikan cerita yang tak terlepas dari siar dan dakwah tentang kisah ketauladanan, riwayat Nabi serta sejarah lainnya.Sekarang ini, pertunjukan seni kentrung sangatlah langka.


Keberadaan kentrung makin  kalah dengan seni pertunjukan modern.  Satu-satunya dalang kentrung yang masih ada di kabupaten Grobogan saat ini adalah Sapuan, warga desa Bringin kecamatan Godong.Di usainya yang sudah senja, yaitu 62 tahun, dia masih menekuni pekerjaannya sebagai dalang kentrung.

 Kakek bercucu 7 ini mengungkapkan seperangkat peralatan dan ilmu seni vokal bertutur yang digelutinya merupakan warisan dari almarhum mertuanya . "Saya mulai ngentrung sejak tahun 70-an, ilmu ini saya dapat dari mertua saya, " jelasnya.

Safuan mengaku sering dipanggil ke acara pupakan puser bayi, khitanan, tingkeban, nikahan atau acara tertentu.Dia tak pernah mematok tarif untuk setiap pertunjukan. "Kalau keluar kota saya patok harganya, namun jika hanya di Grobogan tidak pernah mematok, seikhlasnya saja, " jelasnya.

Syiar agama dan melestarikan budaya menjadi alasan Safuan tetap bertahan dengan profesinya sebagai dalang kentrung. Walaupun penghasilannya tak menentu, dia tetap setia dengan profesinya. "Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi? anak cucu kita takkan pernah menikmatinya lagi," tambahnya.

Di sela-sela profesinya sebagai dalang kentrung,kakek ini setiap harinya mencari ikan disekitar rumahnya. "Kalau lagi sepi, saya nyari ikan,karena profesi ini bisa dibilang sepi " imbuhnya.

Di usianya yang menginjak senja, Safuan berharap ada generasi muda yang mau melestarikan kesenian kentrung yang mulai hilang.(ire)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel