Shelter Khusus Penderita Gangguan Jiwa Akan Dibangun


URWODADI- Tingginya angka  pemasungan pada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) membuat Dinas Sosial (Dinsos) beberapa tahun ini melakukan penanganan serius. Setidaknya, petugas gabungan Dinsos dan Dinkes sudah menangani sebanyak 84 ODGJ yang dipasung. Hal ini membuat Dinsos dalam waktu dekat akan membuat shelter khusus ODGJ. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Sosial Andung Sutiyoso melalui Kabid Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Kurniawan. “Tahun ini kita ajukan, kemungkinan tahun 2018 baru dibangun,” jelasnya.

Ia mengatakan, upaya itu terus dilakukan untuk menargetkan Grobogan bebas pasung bagi ODGJ di tahun ini.“Sebelumnya sekitar dua tahun ini, kami bersama Dinkes menangani 74 ODGJ yang dipasung. Tahun ini kami melakukan penjemputan sebanyak 10 ODGJ pasung. Dari jumlah tersebut semua sudah tertangani, bahkan ada yang sudah sembuh namun harus ada pengobatan rutin,” jelasnya.

Tak hanya disitu, dinas juga mulai membentuk pendamping intensif melalui PSK dan TKSK. Sehingga petugas bisa membantu mengantar ODGJ untuk kontrol setiap bulannya. “Harapannya bagi ODGJ yang sudah sembuh. Bisa berobat di puskesmas terdekat, tidak lagi harus ke RSUD. Hal itu untuk mempermudah keluarga maupun petugas,” harapnya.

Bahkan dari jumlah tersebut, sebanyak 20 ODGJ pasung menerima bantuan senilai Rp 925 ribu untuk kelangsungan hidup selama enam bulan. Pengambilannya juga dilakukan secara bertahap didampingi TKSK.
           
Harapan untuk bisa menuntaskan permasalahan pemasungan terus ditekankan dinas. Meski kurangnya dana pendampingan, dinas tetap berusaha membantu warga miskin untuk keluar di zona tersebut. Bahkan kini telah ada undang-undang yang mengaturnya, sehingga keluarga yang sengaja memasung (krangkeng, kayu, maupun rantai) bisa dikenai denda.“Karena kendala lainnya seperti kesadaran masyarakat yang masih kurang, dalam memberikan pengobatan rutin keluarganya yang mengidap ODGJ. Sehingga peran dari keluarga, perangkat desa, hingga lingkungan sekitar harus terpadu dalam menangani ini,” katanya.

           
Selain kerap berbenturan dengan pihak keluarga yang cenderung menyembunyikan kasus yang menimpa anggota keluarganya. Bahkan setelah dibawa petugas, keluarga tidak mau menerima kembali saat kondisi korban sudah membaik.“ Kemungkinan pembuatan shelter pada 2018 nanti bisa menjadi solusi. Rencananya akan dibuat di Jalan Gajahmada tepatnya bekas bangunan Loka Bina Karya. Namun masih milik Dinsos, bahkan lokasinya juga tak jauh dari kantor Dinsos,” paparnya. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel