Jembatan Maut Segera Dibangun


GROBOGAN- Mimpi warga Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan, Grobogan untuk memiliki jembatan yang melintasi Sungai Ngrowo akan segera terwujud. Selama ini, jembatan yang hanya terdiri dari gelagar besi terpaksa dilewati warga walaupun ancaman jatuh menyergap mereka. Saat ini material untuk pembangunan jembatan sudah disiapkan pihak desa. Demikian diungkapkan Lapar, Kades Rejosari saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin. “Semua material sudah siap kok. Tinggal pengerjaannya saja, insyaallah dua-tiga hari ini,” jelasnya.

Lapar menjelaskan, pihaknya menyiapkan dana dari ADD sebesar Rp 200 juta untuk pengecoran lantai jembatan. “Semoga dengan keterbatasan dana, pengerjaan jembatan ini segera selesai. Sehingga bisa segera dilalui warga dengan nyaman,” katanya.

Berdasarkan pantauan di lapangan Grobogan Today, tiga-tiang penyangga jembatan sudah terbangun. Besi-besi gelagar jembatan pun sudah ada, malah saat ini dipergunakan warga sebagai jembatan darurat. Warga terpaksa mempergunakan jembatan tersebut karena merupakan akses satu-satunya. “Saya sudah berupaya melarang, karena cukup berbahaya. Namun karena keterpaksaan, gelagar-gelagar besi dipasang untuk melintasi  sungai,” ujar Lapar.

Ia menambahkan, pihaknya akan memberdayakan masyarakat sekitar untuk lebih mempercepat pembangunan jembatan. “Kita ajak warga untuk ikut serta dalam pembangunan jembatan ini,” pungkasnya.

Jembatan Maut Berbahaya
Sungguh miris, warga Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan , Kabupaten Grobogan  harus mempertaruhkan nyawanya saat melintasi jembatan sepanjang 59 meter yang melintasi sungai Ngrowo. Bagaimana tidak, setiap hari mereka harus melewatijembatan  diatasnya hanya berupa gelagar baja saja. Kalau tidak berhati-hati, sewaktu-waktu mereka bisa tercebur ke sungai.

Orang tua harus mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah karena kondisi jembatan yang berbahaya. Anak-anak bisa saja tercebur jika kurang hati-hati saat melintas. Yang lebih miris lagi, saat gelagar belum terpasang. Saat banjir, siswa sekolah harus melintasi derasnya aliran sungai. “Biasanya diseberangkan orang tua mereka, namun jika tidak ada yang menyeberangkan mereka tidak berangkat sekolah,” tutur Isro Haryati, guru SD Negeri Rejosari 3.

Jembatan yang merupakan akses terdekat warga Desa Rejosari jika hendak ke Kradenan ini memang kondisinya dari tahun ke tahun sangat memprihatinkan. Menurut Saidi(56), warga setempat,  tahun 70-an jembatan tersebut awalnya terbuat dari bambu, namun baru beberapa tahun jembatan hilang terbawa banjir. “Kalau hanyut, warga harus bergotong-royong membuat jembatanlagi. Padahal kalau sekolah SMP atau SMA lewat jembatan ini jauh lebih dekat,” tuturnya.

Menurutnya, sejak dibangun tahun 2014 lalu dan diberi gelagar diatas pilar jembatan untuk mempermudah akses warga, sudah banyak warga yang tercebur sungai saat mengendarai sepeda motor. Dari empat gelagar yang ada, roda kendaraan hanya bisa melintas pada satu gelagar dan tidak bisa beralih ke gelagar yang lain. Jadi butuh kehati-hatian lebih agar tidak tercebur sungai. “Rumah saya kan sangat dekat dengan jembatan. Jadi tahu pasti jika ada yang jatuh, terakhir kemarin ada yang sampai patah tulang,” tuturnya.

Sri yanto, salah seorang warga mengaku terpaksa melintas walaupun  diliputi perasaan takut. “Mau  bagaimana lagi, ini kan akses satu-satunya. Walaupun harus was-was karena jembatannya bergoyang-goyang. Apalagi kalau abis hujan, licin banget,” tuturnya. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel