Koplak Dokar Digusur,Penghuni Menganggur


GROBOGAN – Lahan seluas 3600 meter persegi milik PT KAI DAOP IV Semarang yang digunakan untuk kawasan esek-esek  dibongkar paksa petugas,Kamis(22/12). Kurang lebih 300 orang dari Polres Grobogan,Kodim 0717, Satpol PP ikut mengamankan kawasan “Gang Dolly” Purwodadi ini.

Sejak pukul  09.00 WIB,petugas dari PT KAI bersama keamanan sudah berada di lokasi penggusuran. Satu alat berat sudah disiapkan petugas untuk meratakan bangunan semi permanen milik penghuni koplak dokar. Sebanyak 54 kepala keluarga tercatat menghuni bangunan semi permanen ini.

Masuknya alat berat mendapat hadangan warga. Sekitar 50 orang penghuni lokalisasi yang didominasi wanita mencoba menghalangi alat berat yang akan masuk. Mereka membentangkan berbagai poster yang berisi penolakan penggusuran. Terjadi aksi dorong mendorong antara petugas PT KAI dengan warga. Namun akhirnya warga bisa dipukul mundur, sehingga alat berat bisa masuk kawasan koplak dokar.


“Kami sudah memberikan batas waktu untuk membongkar bangunannya sendiri. Namun tidak diindahkan maka  kami gusur. Kami berharap lahan milik PT KAI ini bersih dari prostitusi. Terlebih lokasi yang berada di pusat kota. Serta pembongkaran ini bertujuan untuk penataan kota. Sebab, selama ini kawasan tersebut dikenal sebagai kawasan kumuh dan tempat prostitusi di tengah kota,” jelas  Edi Kuswoyo, Manager Humas PT KAI DAOP IV Semarang.

Edi kuswoyo menambahkan, kawasan tersebut akan disewa pemda Grobogan untuk digunakan sebagai kawasan kuliner dan pusat oleh-oleh. “ Tanah ini nantinya akan disewa pemda. Untuk besarannya tidak bisa  kami sebutkan,” pungkasnya.

Pasca perobohan bangunan, terlihat beberapa warga masih mengamankan beberapa barang yang masih bisa dipakai. Mereka masih mengais barang-barang milik mereka yang belum sempat diselamatkan. “Sebenarnya kami mau bongkar sendiri. Namun karena listrik belum diputus, kami takut. Kalau begini bahan bangunan yang seharusnya masih bisa dipakai, tidak bisa digunakan lagi,” keluh Karliyo yang sudah 20 tahun tinggal di lokalisasi.

Sri Ningsih(42),salah seorang penghuni koplak dokar mengaku hanya bisa pasrah dengan keputusan PT KAI. "Setidaknya kami minta  diberi ganti rugi ,minimal direlokasi," harapnya.Sri Ningsih mengaku,sudah lebih dari 5 tahun mengais rejeki di koplak dokar.

Heri(40),warga koplak dokar yang lain menyayangkan penggusuran tersebut. Bapak dua anak ini  kecewa karena tindakan penggusuran itu tanpa ada solusi bagi korban penggusuran. “Di Surabaya, di Jakarta, mereka digusur tetapi diberi solusi. Diberi tempat baru dan diberi modal usaha. Kami harus angkat kaki tanpa modal sepeser pun. Untuk tinggal dimana, saya masih bingung,” keluhnya.

Kawasan yang dikenal sebagai Koplak Dokar menjadi tempat hiburan esek-esek sesaat sejak puluhan tahun yang lalu.Setidaknya terdapat 80 wanita pekerja seksual yang beroperasi di malam hari.Banyak warga yang mendukung alih fungsi kawasan ini.”Jika koplak dokar menjadi pusat oleh-oleh dan kuliner sangat bagus sekali.Soalnya selama ini belum ada pusat kuliner di Purwodadi,” ungkap  Jumadisalah satu warga Purwodadi.(ire)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel