Miris, Inilah Akses ke Sebuah Sekolah di Grobogan



GROBOGAN - Akibat bangunan sekolah rusak, siswa Sekolah Dasar terpencil di Grobogan terpaksa mengikuti pelajaran  secara berhimpitan di ruang kelas yang kondisinya sangat membahayakan jiwa. Hanya tiga ruang  kelas yang bisa dimanfaat siswa untuk belajar. Sementara itu banyak guru yang terlambat bahkan tidak bisa berangkat menuju sekolah karena kondisi jalan tidak bisa dilewati.



Sebanyak tujuh puluh delapan siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Suwatu, Kecamatan Gabus, terpaksa mengikuti ujian sekolah didalam tiga ruang kelas yang kondisinya sangat memprihatinkan dan berbahaya bagi keselamatan jiwa siswa dan guru. Sementara itu empat ruang lainnya kondisinya sudah rusak parah dan tidak bisa ditempati. Seluruh kayu bangunan dan atap ruang kelas sudah patah .



Bangunan sekolah yang yang terbuat dari papan kayu ini berdiri sejak tahun 1982 dan hingga sekarang belum pernah direnovasi. Kerusakan bangunan yang sudah terjadi sejak enam tahun ini membuat aktifitas belajar mengajar menjadi terganggu. Bahkan setiap melaksanakan ujian sekolah, siswa dan guru mengaku kebingungan karena tidak memiliki ruang kelas yang layak. “kalau hari biasa murid kita campur, mereka harus berhimpitan dalam melakukan kegiatan belajar,” jelas Kusno, Kepala Sekolah SD Negeri 1 Suwatu.


Dari tujuh ruang kelas, empat ruang diantaranya tidak bisa digunakan, dan tiga lainnya terpaksa digunakan dengan kondisi bangunan yang sangat mengkhawatirkan. Proses pelaksanaan ujian pun harus di lakukan secara dua gelombang yakni pagi dan siang. Seperti Mira Rahmadani siswi kelas empat ini mengaku selalu ketakutan jika belajar di bangunan ini. Bahkan ia pun tidak bisa konsentrasi dalam mengerjakan soal karena takut jika hujan turun atap bocor dan bangunan tiba-tiba roboh. “Kalau hujan pasti bocor semua, apalagi kalau ada angin, menakutkan,” tuturnya.




Selain faktor bangunan, proses belajar mengajar pun sering kali terkendala akibat cuaca dan kondisi jalan. Beberapa guru yang berasal dari luar Desa Suwatu terkadang terlambat untuk tiba di sekolah karena kondisi jalan yang rusak parah dan berlumpur. Mereka harus melewati jalur hutan yang terjal dan berlumpur dibawah guyuran hujan sepanjang dua puluh kilometer. “Lumpur adalah teman kami saat musim hujan datang,” tutur Erlan Rubiyanto, salah seorang guru.



 Bahkan ada beberapa guru yang tidak bisa tiba disekolah untuk mengajar karena jika hujan turun cukup deras sejak pagi sehingga jalur hutan tidak bisa  dilewati roda dua maupun roda empat. Jika kondisi jalan kering, jarak tempuh dari kota Gabus menuju sekolah bisa mencapai satu setengah hingga dua jam perjalanan.(iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel