Spider Woman dari Grobogan yang Mendunia di Mata Orangtuanya


Klambu, Grobogantoday.com - Siapa yang pernah menyangka, Aries Susanti Rahayu (23), gadis dari sebuah desa di  Pegunungan Kendeng Utara, Kabupaten Grobogan ini akan menjadi sorotan usai menyabet emas di Kejuaraan dunia Panjat Tebing - IFSC World Cup 2018 di China. Putri ketiga dari tiga bersaudara ini lahir dari keluarga sederhana, pasangan Sanjaya(56) dan Maryati(47). Ia lahir dan besar di Desa Taruman RT 1 RW 4,Kecamatan Klambu, Kabupaten Grobogan. 

Di mata ibunya, Aries kecil merupakan sosok manja yang selalu ingin menjadi terdepan. Walaupun paling kecil sendiri, ia tidak pernah mau kalah dengan kedua kakaknya,  Dwi Santi Yuvita(29), Astrea Susanti(25) saat bermain. "Memang dari kecil Aries itu manja, tapi tomboi. Ia sangat berbeda jauh dengan kakak-kakaknya. Ia senang olahraga sejak kecil, sedangkan  saudaranya yang lain tidak hobi olahraga," kata Maryati, saat ditemui Grobogantoday.com di rumahnya, Kamis (10/5/2018). 

Maryati menjelaskan, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Aries sudah menggeluti dunia olahraga. Beberapa kali ia mengikuti lomba atletik hingga tingkat provinsi. Bahkan hingga duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, ia masih sering mengikuti lomba atletik, mulai dari lari hingga lompat jauh. Ia juga pernah menjuarai lomba voli tingkat Kabupaten. "Kebanyakan lomba lari cepat 100 sampai 200 meter. Waktu SD pernah juara 2 tingkat Propinsi Jawa Tengah,"  jelasnya. 

Walaupun manja, gadis berhijab ini selalu menuruti nasehat orang tua dan rajin belajar. Selama menggeluti olahraga panjat tebing, ia tak pernah menyusahkan orang tua. "Untuk beli alat, biasanya usaha sendiri. Kalau punya uang saku dikumpulkan. Biasanya kalau kehabisan uang saku, bilang pinjam, kalau sudah dapat uang dikasih," tutur Maryati. 


Sejak kelas 2 Sekolah Menengah Pertama (SMP), jelas Sanjaya, orang tuanya, Aries mulai mengenal olahraga panjat tebing. Melalui guru olahraganya, Tri Rusyuliyanto, Aries diperkenalkan dengan seorang pelatih panjat tebing. "Sejak kelas dua SMP, anak saya mulai mengenal panjat tebing. Oleh guru olahraganya, dikenalkan kepada Ari wek-wek. Dialah yang paling berjasa kepada anak kami," kata Sanjaya yang berprofesi sebagai buruh tani. 

Saat duduk di bangku kelas 3 SMP, Aries berhasil menyabet medali perak di Kejurnas panjat tebing di UPN Yogyakarta. Sejak saat itu, Aries makin gigih menekuni olahraga panjat tebing. "Sempat saya nasehati agar menekuni atletik dan panjat tebing. Tapi anaknya malah menggeluti panjat tebing. Sebagai orang tua, saya support dan dukung sepenuhnya. Selalu saya doakan agar berhasil," ujarnya.


Walaupun berprestasi, ia selalu mengingatkan anaknya untuk tidak lupl daratan. "Alhamdulillah  di mata tetangga Aries anaknya supel, dan tidak besar kepala," katanya.


Saat duduk di bangku SMA, untuk mengejar prestasi, ARIES harus pindah-pindah sekolah. "Saat kelas 1 di SMA 9 Semarang. Karena sering meninggalkan pelajaran dan gak boleh ijin, lantas pindah ke SMA YPE. Baru di kelas 3, pindah lagi ke SMA Kristen Purwodadi. Saat ini Aries kuliah semester tiga di Universitas Muhammadiyah Semarang, namun masih cuti ," tambahnya.


Dengan prestasi yang diraih putrinya, ia berharap, pemerintah memperhatikan pendidikan dan memberikan pekerjaan tetap. "Paling tidak masa depan anak saya terjamin," harapnya. (RE) 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel