Ngangsu Kaweruh Bareng Cak Nun di Grobogan Dibanjiri Warga


Menjadi orang Grobogan itu berat, Anda tidak akan kuat, biar mereka saja.
Sejak dulu hingga sekarang daerah ini sering disalahpahami. Dulu, pada zaman Orde Baru, Grobogan atau Purwodadi diidentikkan dengan tragedi 65. Lebih maju sedikit, Grobogan yang wilayahnya diberkahi hamparan ladang sawah, menurut sinetron, teridentikkan dengan kemunduran, kebodohan, dan kemiskinan.
Seolah manusia yang kebetulan bermukim di Grobogan sudah dihabisi sisi kepercayaan dirinya. Mereka kewalahan menghadapi stigma itu. Stigma yang terus menempel dari dulu sampai sekarang. Bahkan, stigma tentang manusia yang beralamat di Grobogan sebagai manusia yang tidak melek modern dan cakap menggunakan kecanggihan gawai berlanjut di novel terbarunya Ratih Kumala berjudul “Wesel Pos.”
Di situ, Ratih menceritakan seorang tokoh bernama Elisa yang berasal dari Grobogan merantau ke Jakarta. Saat ke Jakarta Elisa bingung di terminal, tidak tahu bagaimana menuju tempat yang dituju, takjub melihat televisi berbentuk gepeng, dan bingung menggunakan handphone berlayar sentuh.
Ya, tentang orang-orang Grobogan, kemiskinan mirip takdir yang mesti diterima tanpa harus diminta. Sehingga sangat terpaksa mereka meninggalkan kampung halaman menuju kota-kota besar di Indonesia untuk mengadu nasib dan yang lebih utama lagi: menepis stigma.
Jumat malam (31/08/2018) sekumpulan Anak Rantau Korea Selatan dari desa Pulokulon (disingkat: Arkorp) Grobogan, menyelenggarakan acara “Ngangsu Kawruh bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng.”
Tinggal di negeri seberang tidak membuat lupa tanah halaman. Desa tetap menjadi tujuan utama dan tempat impian menghabiskan masa tua. Banyak orang yang baru berada di luar negeri tidak lebih seminggu sudah bisa mendefiniskan bahwa (manusia) Indonesia lebih malas, tidak disiplin, bodoh dari orang luar negeri.
Cerita yang bertentangam dengan itu justru disampaikan orang-orang Pulokulon yang sudah bertahun-tahun menjadi TKI di Korea Selatan. Menurut pengalaman mereka, di Korea Selatan, pekerja asal Indonesia sudah dikenal ulet, kreatif, serba bisa, dan cekatan. Maka, banyak orang Korea Selatan yang suka dengan cara kerja Indonesia.

Di lingkungan para pekerja Indonesia di Korea Selatan, Mbah Nun adalah figur yang dikagumi dan dikangeni. Tidak sekali dua kali Mbah Nun diundang datang ke Korea Selatan. Dan, ketika mereka pulang ke kampung halaman, Mbah Nun dihadirkan ke kampung halaman mereka. Kepada Mbah Nunlah, menurut mereka, mereka menemukan kepercayaan dirinya sebagai orang dari desa. Dari Mbah Nunlah mereka tidak lagi minder berinteraksi dengan orang kota atau orang luar negeri.
Maka bagi orang Indonesia yang bekerja di Korea Selatan bisa bertemu dan sinau langsung dengan Mbah Nun adalah kesempatan yang ditunggu. Sehingga ketika mereka mengundang Mbah Nun dan KiaiKanjeng, acara sudah disiapkan dengan sungguh-sungguh. Bahkan bisa diperkirakan bahwa acara ini disesuaikan dengan musim panen padi. Sebab, di sekeliling lapangan tempat panggung KiaiKanjeng berdiri, rumput-rumput yang baru ditebang terlihat sepanjang mata.
Entah doa apa yang dipanjatkan penduduk Pulokulon. Ketika waktu sore lokasi berlangsungnya acara “ngangsu kawruh” dipotret dan disebarkan di media sosial dan saat itu pula tanah dan rumput terlihat kering serta langit terlihat terang. Tapi, menjelang Magrib, sekurumunan mega-mega menutupi bulan. Langit Pulokulon mendung. Dan, menit-menit menjelang KiaiKanjeng tampil, hujan tipis-tipis. Hujan pertama di peralihan menuju musim hujan, jatuh menimpa tanah subur Pulokulon.

Mungkin langit mendengar doa-doa jamaah yang menginginkan hujan jangan menderas agar tanah yang gembur itu bisa becek dan tidak bisa dibuat duduk. Doa itu pun tampaknya didengarkan langit. Dan, langit seolah memberi hormat ketika rombongan panitia dan Mbah Nun menuju panggung, hujan telah mereda.
Dari lingkungan acara, kita bisa melihat panitia sangat serius dan hati-hati menyelenggarakan acara. Saking hati-hatinya menjaga kenyamanan jamaah satu papan bertuliskan “Area Putera” tertancap persis di depan panggung, dan satu papan lagi bertuliskan “Area Puteri” tertancap di tengah-tengah lapangan. Panitia sangat menjaga-jaga kalau nanti ada hal buruk terjadi. Maka panitia pun mengantisipasi agar kejadian buruk tidak terjadi. Termasuk  menjaga kenyamanan jamaah puteri dari kejahilan jamaah putera. Hal ini sering terjadi di tempat-tempat lain. Tapi, itu tidak terjadi di “Ngangsu Kawruh” malam ini.
Buktinya, dua papan itu tidak digubris jamaah. Putera dan puteri berbaur. Saling menjaga, tidak saling mengganggu. Semua duduk beralaskan tanah yang baru disirami hujan pertama di akhir Agustus. Terasa empuk, basah, dan aroma tanah kering tersiram hujan terasa sejuk di hidung.
Mungkin kalau tidak hujan akan banyak debu yang nyumpel di hidung jamaah.
“Bejone ono Cak Nun, udan dadi teko, lemahe orak mbleduk,” kata jamaah di samping saya. (Yunan Setiawan)

Sumber:Caknun.com 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel