Curah Hujan Tinggi, Petani Kesulitan Tanam Jagung


GROBOGAN - Sejumlah petani sawah tadah hujan di bilangan Kecamatan Purwodadi ,Toroh dan Pulokulon mengeluhkan tingginya curah hujan dalam dua pekan terakhir. Cuaca yang demikian membuat mereka gagal bercocok tanam jagung karena benih yang mereka tanam di tanah olahan semua busuk.

Darsono, petani di Desa Nambuhan, mengaku gagal bertanam pada lahan seluas 1 hektare. Sebab, setelah benih ditanam hujan cukup lebat terus menerus mengguyurnya bagai tanpa henti. “Jagung kayak apa saja, kalau terus-menerus hujan begini ya pasti busuk juga,”ujarnya.

Padahal, lahan yang didapat dengan cara menyewa itu, sebelumnya dia olah hingga benar-benar matang dengan mencampurkan pupuk kompos di dalamnya. Hal itu, dia lakukan karena ingin mendapatkan hasil panen yang melimpah karena harga jualnya masih lebih baik dibanding tembakau yang harganya sering anjlok.

Hal yang sama diakui Pardi,  menurut dia, modal sekitar Rp2 juta musnah setelah benih yang dia tanam di atas lahan seluas 1 hektare busuk. “Saya sempat penasaran sudah lima hari kok enggak ada daun yang nongol. Setelah saya korek-korek ke dalam, ternyata biji jagungnya busuk,”ungkap dia.

Ia pun mengaku kecewa karena tanaman jagungnya tidak bisa tumbuh. “Saya tidak menyangka kalau curah hujan akan begini tinggi. Sebab, saat-saat seperti ini biasanya hujan masih jarang sehingga tanaman bisa tumbuh dan semakin subur saat curah hujan tinggi,” katanya.

Namun, belakangan ini, hampir setiap sore hingga malam, hujan selalu turun dan curahnya sangat tinggi dan dalam waktu yang cukup lama. Akibatnya, benih jagung yang dia tanam di atas lahan  hektare busuk semua. Dia pun mengaku harus mencari modal lagi untuk bertanam benih kembali, serta menunggu saat tepat untuk memulainya.

Sejumlah petani yang ditemui terpisah mengaku saat ini tengah menimbang-nimbang cuaca; bukan saja untuk menanam benih jagung melainkan juga untuk menggarap lahan. Sebab, jika lahan telanjur diolah sementara curah hujan masih terus tinggi lalu dibiarkan saja, lahan tersebut harus diolah ulang agar tanaman bisa tumbuh dengan baik.

Komoditas jagung mereka pilih karena selain modal yang dikeluarkan untuk itu tidak terlalu besar, harga jual komoditas tersebut juga masih relatif tinggi bahkan juga stabil. “Dulu kalau musim kemarau biasanya petani disini memilih untuk menanam tembakau. Tapi karena harganya yang tidak stabil, banyak petani yang beralih ke komuditas jagung,” pungkasnya. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel