Sedimentasi Tinggi, Bendung Glapan Perlu Dinormalisasi

AMBIL PASIR : Sejumlah warga memanfaatkan material endapan, yakni pasir untuk memenuhi kebutuhan material bangunan.

GROBOGAN-Pengangkatan sedimentasi di Bendung Glapan, Kecamatan Gubug perlu segera dilakukan agar air yang mengalir ke sawah di hulu sampai hilir bisa maksimal. Demikian diungkapkan Kepala Balai Pekerjaan Umum Pengelola Sumber Daya Air dan Tata ruang Bodri Kuto Jawa Tengah, Indah Sulistyowati, saat menghadiri acara berdoa bersama menjelang masa tanam pertama di Posko Pembantu Pelaksana Bendung Glapan, Rabu (11/10). “ Kondisinya perlu perhatian khusus. Harus segera ditindaklanjuti. Penumpukan sedimentasi sudah mencapai  meter,” jelasnya kepada Grobogan Today.

Indah mengatakan, pihaknya telah beberapa kali mengusulkannya kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk melakukan rehabilitasi Bendung Gelapan.
’’Setiap tahun kita telah melakukan  pemeliharaan rutin, namun karena parahnya kerusakan maka perlu rehabilitasi. Rencana ini sudah kami usulkan ke BBWS, tinggal pengesahan saja, besarannya puluhan milyar. Bila sudah disahkan, 2018 nanti akan dilakukan normalisasi di sini. Makanya, sebelumnya kami melakukan pembersihan bangunan dari saluran induk maupun sekunder,’’ katanya.

Indah menambahkan,  akibat sedimentasi di Bendung Glapan sudah cukup tinggi dan kerusakan fisik di beberapa bagian bendungan , sehingga perlu segera dilakukan normalisasi. Bahkan beberapa pintu pengelolaan air tertutup sedimentasi.”Air tidak berkurang dari Rawa Pening, namun adanya sedimentasi membuat air melimpas sebelum air mengalir sesuai kapasitas yang direncanakan. Kalau tidak, air pasti akan melimpas dan ini menjadi kerugian bersama,’’ jelasnya.

Pembantu pelaksana OP Bendung Glapan, Restu  Ashari mengungkapkan, sedimentasi yang cukup tinggi di Bendung Glapan diakibatkan karena rusaknya hutan di bagian hulu. “Kita tahu, hutan di Kedungjati saat ini menjadi lahan pertanian. Sehingga saat hujan akan membawa material sedimen cukup banyak. Sudah lama Bendung Glapan tidak dinormalisasi,” terangnya.

Ia menambahkan, cekungan diatas bendungan seharusnya sedalam dua meter lebih, namun akibat parahnya sedimentasi, saat ini cekungan sudah rata dengan bendungan. “Kalau normal, pastinya bisa menampung air. Namun saat ini sudah tidak bisa,” tambahnya.

Penuturan yang sama dikemukan Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Karya Manunggal Skunder Gangi, Marjuki mengatakan akibat sedimentasi yang cukup tinggi, kemampuan bendung Glapan dalam menampung air berkurang. “Selama belum dilakukan pengangkatan, Bendung Glapan hanya mampu menampung 5 kubik saja. Padahal, dalam keadaan normal, tanpa sedimentasi, Bendung Glapan mampu menampung lebih 10 kibik lebih,” katanya. (iya)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

alt gambar

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel