Wisata Kedungombo Diwacanakan Dibuka Kembali

SEPI: Semenjak ditutup, pedagang di Wisata Kedungombo mengaku omsetnya turun drastis.

GROBOGAN- Setelah lama tidak dibuka untuk umum, obyek wisata Waduk Kedungombo diwacanakan akan dibuka kembali untuk umum. Pembukaan, dilakukan jika sudah adanya komunikasi antara BBWS dan pemerintah pemangku wilayah. Demikian diungkapkan Kepala BBWS Pamalijuwana Ruhban Ruzziatno, dihubungi melalui telepon, kemarin. Ia menjelaskan, pembukaan kembali mungkin saja dilakukan jika pengelola dengan pemerintah sebagai pemangku wilayah duduk bersama.“Kita akan duduk bersama dulu. Tentang kapan akan dibuka harapan kami secepatnya bisa dioperasionalkan kembali,” ungkap Ruhban saat ditanya tentang pembukaan obyek wiksata Kedungombo.

Jika dibuka kembali, tambah dia, ada persyaratan yang harus dipatuhi oleh masyarakat maupun pengelola. “Persyaratan seperti pembatasan mana area public dan mana area yang tertutup untuk public. Semua untuk keamanan asset Kedungombo,” tambahnya.

Dimana, penutupan obyek wisata waduk Kedungombo dilakukan seiring dilakukan pengurus koperasi karyawan atas perintah BBWS. Selain membuat ratusan pengunjung tidak bisa menikmati suasana santai di obyek wisata air, juga memaksa puluhan pedagang ikan tidak bisa berjualan.

Pembukaan obyek wisata Waduk Kedungombo disambut positif  para pedagang. Kendati berada di daerah perbatasan obyek wisata Kedungombo masih menjadi andalan wisata di Grobogan.“Jika sudah dioperasionalkan kembali, kita bisa mencari nafkah disitu lagi,” harap Layem.

Sebelumnya, Ditutupnya obyek wisata Kedung ombo yang terletak di Desa Rambat, Kecamatan Geyer sejak Jumat(1/9) membuat kelimpungan ratusan pedagang yang biasa berjualan di waduk yang mulai beroperasi sejak tahun 1991 ini. Bagaimana tidak, mata pencaharian yang merupakan tumpuan hidup sekitar 200 pedagang nyaris mati. Demikian diungkapkan Layem(49), pedagang ikan bakar yang biasa berjualan di waduk kedungombo. “Biasanya setiap hari habis 20 sampai 30 kilogram ikan. Kalau kayak gini, gak ada yang beli,” akunya saat ditemui Lingkar jateng Harian Grobogan, beberapa waktu yang lalu.
Pengakuan yang sama diutarakan Sutarmi(45), pedagang asongan ini sangat menggantungkan hidupnya dari keberadaan wisatakedung ombo. Ibu dari tujuh orang anak ini mengaku sejak tahun 1995 telah berjualan  di Kedung ombo. “Kalau gak jualan disini mau kerja dimana. Sawah juga gak punya,” tuturnya.

Ia menambahkan, penutupan wisata kedungombo bertepatan dengan momen liburan Idul Adha yang sangat dinanti-nantikan para pedagang. ereka bahkan sudah terlanjur berbelanja lebih untuk persiapan liburan tersebut. “Sebelumnya tidak ada pemberitahuan. Jadi kita sudah terlanjur belanja,” tambahnya.

Dengan adanya larangan masuk untuk pengunjung dan pedagang, akhirnya pedagang mendirikan tenda-tenda darurat di sekitar pintu masuk wisata. Berdasarkan surat yang terpampang di pintu masuk Kedungombo, berisi penghentian sementara aktivitas usaha yang dikelola oleh koperasi  di area waduk Kedungombo.  “Dua hari sebelumnya, Jumat dan Sabtu, pengunjung masih boleh masuk, kita pun masih berjualan di lokasi lama. Tapi mulai Minggu, semuanya dilarang masuk,” terangnya.

Terlihat ada belasan pedagang yang nekat berjualan di sekitar pintu masuk wisata. Ada  pula beberapa pedagang yang mengemasi dagangannya dari lokasi lama untuk dipindahkan ke lokasi baru. Namun begitu, omset yang mereka raup turun drastis hingga 90 persen. “Para pengunjung gak jadi masuk. Paling ada satu dua yang  singgah,” Saminem, pedagang yang lain.

Kades Rambat, Trihadi Budi Sanyoto saat dimintai keterangan di tempat tinggalnya menuturkan,  jika pihaknya baru tahu jika lokasi wisata yang menjadi tumpuan puluhan warganya ini ditutup sepihak oleh BBWS Pemali Juana. “Belum ada pemberitahuan. Saya juga baru tahu kalau wisata ditutup. Untuk masalahnya apa masih simpang siur,” jelasnya.(iya)




Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel